Kerasnya Bullying Kakak Kelas Di Pesantren Buat Tiga Santri Di Jombang Ini Kaburr
Bacatrend, JOMBANG – Tiga bocah bersarung itu berjalan gontai di bawah langit Jombang yang masih berembun, Selasa pagi (22/7/2025). Langkah mereka kecil namun penuh tekad.
Tak ada yang menyangka, ketiganya adalah santri yang baru saja melarikan diri dari lingkungan pesantren di Kecamatan Sumobito. Dalam diam, mereka menyusun rencana kabur demi satu hal: terbebas dari perlakuan yang menyakitkan, dari tekanan yang membekap napas mereka setiap hari.
Mereka masih sangat belia. AF dan AM yang baru berusia 12 tahun, serta AH yang bahkan baru menginjak 10 tahun.
Ketiganya berasal dari dua kecamatan berbeda, Wonosalam dan Sooko. Namun nasib membuat mereka sehati: sama-sama tidak tahan lagi dengan kerasnya kehidupan di balik pagar pondok pesantren. Bukan karena pelajaran yang berat, bukan pula karena kerinduan akan rumah. Tapi karena perundungan dari para senior yang menggerus harga diri mereka perlahan-lahan.
Pagi itu mereka melangkah dengan membawa ransel kecil berisi pakaian seadanya. Dunia mereka telah terlalu sempit di balik tembok asrama, dan satu-satunya jalan keluar adalah kabur. Dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam, mereka menyewa becak menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Mojoagung—tempat yang mereka bayangkan cukup aman untuk bersembunyi.
Namun, langit rupanya tak membiarkan tiga bocah itu terus memikul beban sendirian. Warga sekitar yang melihat keberadaan mereka merasa curiga—anak-anak bersarung yang tampak gelisah di taman kota sejak pagi. Laporan pun masuk ke Pos Pemadam Kebakaran Mojoagung. Dan dari sinilah kisah pelarian itu menemui akhirnya.
Riza Maulana, petugas damkar yang menerima laporan tersebut, langsung bergerak cepat. Ia menemukan ketiganya duduk diam dengan wajah lesu. Mereka tidak memberontak saat dibawa ke pos, seolah-olah telah lelah bertahan. Di hadapan petugas, mereka mengisahkan luka yang selama ini dipendam: bagaimana kakak kelas memperlakukan mereka seperti budak, menyuruh ini-itu, bahkan tak segan main tangan saat mereka membantah.
“Sudah dijemput oleh pengurus pondok. Sekarang mereka sudah kembali ke sana,” kata Riza, menutup ceritanya. Ia tak berkata banyak, tapi dari sorot matanya tergambar kekhawatiran yang belum usai. Karena kaburnya tiga santri itu bukan sekadar insiden kecil. Ini adalah jeritan kecil yang menembus benteng sunyi sebuah dunia yang seharusnya mendidik, bukan melukai.











Tinggalkan Balasan