Bacatrend, Batang — Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Pantai Sigandu, yang biasanya menyambut pagi dengan debur ombak dan tawa wisatawan, berubah menjadi saksi bisu tragedi memilukan. Dua jasad mungil tergeletak di antara ranting dan pasir basah—seolah laut sendiri memuntahkan kesedihannya.

Mereka adalah HA (6) dan HH (3), kakak-adik yang belum sempat mengenal dunia lebih jauh. Tubuh mereka ditemukan tak jauh dari pohon cemara tumbang, seperti anak-anak yang tertidur dalam pelukan alam, namun tanpa harapan untuk terbangun.

Tak ada tangisan. Tak ada jeritan. Hanya sunyi yang menggantung di udara pagi, ketika seorang pengunjung kafe melihat benda kecil tersangkut di pohon. Saat didekati, kenyataan menghantam: seorang bocah perempuan, tak bernyawa, masih mengenakan pakaian kecilnya. Tak lama berselang, sang kakak ditemukan, tergeletak tak jauh dari adiknya. Dunia seakan berhenti berputar.

Di balik tragedi ini, berdiri sosok ibu muda berinisial VM (31), yang ditemukan dalam kondisi linglung di toilet portabel pantai. Ia datang ke pantai sebelum subuh, membawa kedua anaknya dengan sepeda motor, tanpa sepengetahuan sang suami. Menurut dugaan polisi, VM berniat mengakhiri hidup bersama buah hatinya—sebuah keputusan yang lahir dari gelapnya batin yang tak terlihat oleh dunia.









Barang-barang mereka—sandal kecil, tas mungil, sepeda motor—tergeletak di tepi pantai, seperti jejak terakhir dari perjalanan yang tak pernah dimaksudkan untuk kembali. VM berjalan ke laut, menggendong HH dengan selendang, sementara HA duduk di depan motor. Ia melangkah hingga air menelan kakinya, hingga pasir tak lagi menopang tubuhnya. Lalu, laut mengambil alih.

M. Aziz Tholib, sang ayah, tak pernah menyangka. Malam sebelumnya, mereka menonton televisi bersama. Tak ada pertengkaran, tak ada isyarat. Hanya keheningan yang kini terasa seperti pertanda yang terlewatkan.

Kini, dua bocah itu telah kembali ke pangkuan bumi. Tapi pertanyaan-pertanyaan masih bergema: Apa yang mendorong seorang ibu untuk menyerahkan anak-anaknya pada kematian? Di mana letak luka yang tak terlihat? Dan mengapa dunia begitu sering gagal mendengar jeritan yang tak bersuara?

Pantai Sigandu, yang biasanya menjadi tempat pelarian dari hiruk-pikuk kehidupan, kini menjadi altar duka. Ombaknya tak lagi bernyanyi, melainkan menangis. Dan di antara pasir yang basah, tersimpan kisah tentang cinta, luka, dan kehilangan yang tak terperi.