Bacatrend, Jember — Pagi itu, langit Jember tampak cerah, seolah ikut menyambut langkah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang tiba di SPBU Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates. Di tengah deretan kendaraan yang mengisi bahan bakar tanpa antre panjang, Khofifah berdiri dengan satu pesan tegas: “BBM sudah normal. Saatnya Jember kembali bergerak.”

Kunjungan kerja yang dilakukan Kamis (31/7/2025) itu bukan sekadar inspeksi. Ia datang membawa harapan baru bagi masyarakat Jember yang sempat terhenti aktivitasnya akibat kelangkaan BBM. Beberapa hari sebelumnya, Bupati Jember Muhammad Fawait menerbitkan Surat Edaran yang mengizinkan pelajar dan ASN menjalankan Work From Anywhere (WFA)—sebuah kebijakan darurat untuk menekan mobilitas warga setelah penutupan Jalur Gumitir memicu krisis bahan bakar.

Namun kini, suasana berbeda. Tangki-tangki Pertamina telah kembali mengalirkan pasokan. SPBU tak lagi dipenuhi antrean panjang. Dan bagi Khofifah, ini adalah sinyal kuat bahwa kebijakan darurat tak lagi relevan.

“Anak-anak harus kembali belajar di sekolah. Pelayanan publik harus berjalan optimal. Ini penting untuk pemulihan ekonomi Jember,” ucapnya lantang, di hadapan jajaran Pemkab dan awak media.









Di Pasar Tanjung, tempat kedua yang ia kunjungi, Khofifah menyusuri lorong-lorong sempit di antara lapak pedagang. Ia berhenti di sebuah kios beras, mengamati karung-karung yang bertumpuk. “Semua beras premium. Di mana beras medium?” tanyanya, nada prihatin tak bisa disembunyikan.

Bagi gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu, pemulihan bukan hanya soal BBM. Ia bicara tentang keseimbangan: pendidikan yang berjalan, pelayanan publik yang aktif, dan kebutuhan pokok yang terjangkau. Ia menekankan pentingnya koordinasi antara Bulog, Dinas Pertanian, dan Dinas Ketahanan Pangan agar beras medium bisa menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

“Stoknya aman. Tinggal pastikan distribusinya berjalan. Jangan sampai pasar kekurangan,” ujarnya.

Di tengah hiruk-pikuk pasar dan SPBU yang mulai kembali hidup, pesan Khofifah menggema: Jember harus bangkit. Ia tak hanya bicara soal angka dan logistik, tapi tentang anak-anak yang rindu bangku sekolah, tentang pegawai negeri yang siap kembali melayani, dan tentang roda ekonomi yang tak boleh berhenti terlalu lama.

“Kalau distribusi BBM dan logistik sudah lancar, maka kegiatan belajar-mengajar serta layanan publik harus kembali seperti semula. Ini penting demi pergerakan ekonomi dan kesejahteraan warga Jember,” pungkasnya.

Hari itu, Jember tak hanya menerima kunjungan seorang gubernur. Ia menerima dorongan untuk kembali bernapas, kembali bergerak, dan kembali percaya bahwa normal bukan sekadar harapan—tapi kenyataan yang sudah di depan mata.