Bacatrend, Sumut – Di bawah langit kelabu Mandailing Natal, Sumatera Utara, sebuah mimpi remaja gugur sebelum sempat mekar. Diva Febriani (15), pelajar yang seharusnya berdiri tegak mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia, justru ditemukan tak bernyawa di hamparan sunyi perkebunan kelapa sawit. Tubuhnya terbaring diam di antara semak dan tanah basah, seolah alam pun ikut berkabung atas hilangnya satu jiwa muda yang penuh harapan.

Selasa, 29 Juli 2025, Diva pulang dari latihan paskibra di sekolahnya. Seragamnya masih menyimpan aroma semangat dan disiplin. Ia tengah mempersiapkan diri untuk momen paling sakral dalam hidup seorang pelajar: mengibarkan bendera pusaka di hari kemerdekaan. Namun takdir berkata lain. Yunus (25), lelaki yang seharusnya menjadi bagian dari masyarakat yang melindungi, justru menjadi algojo dalam kisah kelam ini. Ia merenggut nyawa Diva dengan cara yang belum sepenuhnya terungkap, meninggalkan misteri dan luka yang menganga di hati keluarga dan masyarakat.

Dua hari kemudian, Kamis sore, 31 Juli 2025, jenazah Diva ditemukan di area perkebunan milik PT Mitra Santosa, Desa Taluk. Tempat itu, yang biasanya menjadi ladang penghidupan, berubah menjadi panggung kematian. Angin yang berhembus di antara pohon sawit seolah membawa bisikan pilu: “Di sini, harapan seorang anak bangsa telah direnggut.”

Di rumah sederhana Diva, tangisan sang ibu tak lagi bisa dibendung. Ia memeluk seragam paskibra anaknya yang belum sempat dikenakan di hari kemerdekaan. Di sekolah, teman-teman Diva menatap kosong ke arah lapangan upacara. Tempat yang seharusnya menjadi saksi kebanggaan, kini menjadi simbol kehilangan. Masyarakat Madina pun terguncang. Mereka bertanya-tanya: bagaimana mungkin seorang anak bisa menjadi korban kebiadaban di tengah persiapan menyambut hari kemerdekaan? Di mana letak perlindungan? Di mana suara nurani?









Yunus kini berada dalam jerat hukum. Namun keadilan bukan hanya soal hukuman. Ini tentang bagaimana kita, sebagai bangsa, menjaga anak-anak kita dari bahaya yang mengintai di balik wajah-wajah yang tampak biasa. Apakah kita cukup waspada terhadap potensi kekerasan di sekitar kita? Apakah sistem sosial kita benar-benar melindungi yang lemah? Apakah kita masih punya ruang untuk empati dan kepedulian?

Diva Febriani bukan sekadar korban. Ia adalah simbol dari semangat muda yang tak sempat menyala. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal upacara, tapi tentang menjamin keselamatan dan martabat setiap warga negara—terutama mereka yang paling muda dan paling rentan.

Di setiap kibaran bendera, kami akan mengenangmu, Diva. Di setiap langkah paskibra, namamu akan bergema. Dan di setiap doa, kami akan memohon agar tak ada lagi anak bangsa yang gugur sebelum waktunya.