Bacatrend, Gowa — Dunia pendidikan kembali diguncang oleh peristiwa yang menyayat hati. Dua siswi kelas X SMKN 1 Gowa, berinisial R dan N, resmi dikeluarkan dari sekolah setelah video mereka mengacungkan jari tengah ke arah guru viral di media sosial.

Aksi yang terjadi pada Rabu, 30 Juli 2025 itu bukan hanya mencoreng etika ruang kelas, tapi juga memantik perdebatan luas tentang batas disiplin, peran orang tua, dan krisis moral di kalangan pelajar.

Dalam video yang tersebar melalui akun-akun seperti @mksinfo.official dan @makassar_iinfo, terlihat R berdiri dari bangkunya dan secara sengaja mengacungkan jari tengah ke arah guru yang sedang duduk.

Temannya, N, merekam kejadian itu dan menyebarkannya ke media sosial dengan keterangan provokatif. Kepala SMKN 1 Gowa, Muchlis Jufri, menyebut tindakan itu bukan spontan. “RA sudah bersiap dari tempat duduk. Temannya sempat melarang, tapi dia tetap naik ke depan dan mengacungkan jari tengah,” ujarnya.









Ironisnya, insiden ini berawal dari kesalahan teknis. Sang guru, saat memberikan tugas lewat grup WhatsApp, tanpa sengaja mengirim emotikon jari tengah alih-alih jempol. Siswi R menanggapi dengan gestur yang dianggap sebagai balasan, namun caranya justru melanggar norma dan etika.

Pihak sekolah segera memanggil orang tua kedua siswi dan menjatuhkan sanksi tegas berupa drop out (DO). “Kami tidak bisa memberikan surat pindah karena mereka baru seminggu masuk kelas X,” kata Muchlis. Ia juga menegaskan bahwa keputusan ini diambil atas desakan masyarakat, alumni, dan netizen yang menuntut efek jera.

Dinas Pendidikan Sulsel pun angkat bicara. Hery Sumiharto, Kepala Bidang SMK, mengaku baru mengetahui kejadian itu dari media. “Kalau memang itu keputusannya, maumi diapa. Sekolah punya kewenangan untuk membina anak-anaknya,” ujarnya, sembari mengingatkan bahwa setiap keputusan pasti punya dampak.

Permintaan maaf terbuka pun dilakukan oleh siswi N, yang membacakan naskah permohonan maaf di hadapan guru dan komite sekolah. “Saya siap dikeluarkan dari sekolah dan bertanggung jawab atas perbuatan saya,” ucapnya lirih.

Kasus ini menjadi cermin buram dari tantangan pendidikan masa kini. Di satu sisi, siswa dituntut untuk memahami etika dan menghormati guru.

Di sisi lain, sekolah dihadapkan pada dilema antara pembinaan dan penegakan disiplin. Ketika ruang kelas tak lagi menjadi tempat belajar nilai, dan media sosial menjadi panggung ekspresi tanpa batas, maka pendidikan bukan hanya soal kurikulum—tapi tentang karakter.