Niat Hati Ibu Guru Ini Melaporkan Pencurian Tapi Malah Bentakan Polisi yang Didapat
Bacatrend, Makasar – Pada hari yang seharusnya biasa, EB melangkah masuk ke Mapolsek Manggala dengan harapan sederhana: keadilan. Ia adalah seorang guru Sekolah Dasar, terbiasa menghadapi anak-anak dengan kesabaran dan kelembutan. Tapi hari itu, ia bukan pendidik—ia adalah korban pencurian yang ingin melapor.
Namun, bukan empati yang menyambutnya. Di balik meja pelayanan, seorang polisi berinisial Briptu AL diduga membentaknya. EB terdiam, tak percaya. Ia datang membawa keresahan, tapi pulang membawa luka baru—bukan dari pencuri, melainkan dari mereka yang seharusnya melindungi.
“Saya hanya ingin melapor. Tapi saya malah dimarahi, dibentak,” ujar EB, suaranya pelan saat menceritakan kembali kejadian itu. Ia tidak menangis, tapi sorot matanya menyimpan kecewa yang dalam.
Keesokan harinya, EB kembali ke kantor polisi, kali ini bersama suaminya. Ia tak ingin memperpanjang masalah, tapi insiden itu telah terlanjur menyebar. Media sosial ramai membicarakan perlakuan kasar aparat terhadap warga sipil. Publik marah, dan institusi pun bereaksi.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, langsung turun tangan. Briptu AL diperiksa oleh Propam. “Yang bersangkutan sudah meminta maaf dan pelapor telah memaafkan. Tapi proses disipliner tetap berjalan,” kata Arya.
Permintaan maaf memang telah disampaikan, tapi pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung: bagaimana bisa seorang warga yang datang dengan harapan, justru dipatahkan oleh sikap arogan aparat?
Arya mengakui, insiden ini mencoreng upaya institusinya dalam membangun pelayanan yang humanis. “Sebagai polisi, paling tidak kita bisa mendengarkan keluh kesah masyarakat. Jangan sakiti hati mereka,” ujarnya.
Ironisnya, insiden ini terjadi hanya sepekan setelah imbauan internal dikeluarkan agar seluruh jajaran kepolisian memperlakukan masyarakat dengan empati dan hormat. EB, seorang guru yang terbiasa mengajarkan nilai-nilai kebaikan, justru menjadi korban dari kegagalan institusi yang seharusnya menjunjung nilai serupa.
Kini, EB kembali ke rutinitasnya di sekolah. Tapi pengalaman itu tetap membekas. Ia tak lagi percaya sepenuhnya pada sistem, tapi ia tetap berharap—bahwa suatu hari, kantor polisi akan menjadi tempat yang aman untuk semua warga, bukan hanya bagi mereka yang berseragam.











Tinggalkan Balasan