Bacatrend, Bitung – Di sebuah sudut sunyi Kelurahan Pateten III, Kota Bitung, Sulawesi Utara, dini hari itu seharusnya hanya dihiasi suara angin dan deru motor yang sesekali melintas. Namun sekitar pukul 03.00 Wita, Senin (4/8/2025), suasana berubah mencekam. Seorang remaja perempuan berusia 16 tahun terkapar bersimbah darah, ditikam oleh seseorang yang pernah ia panggil kekasih.

AT alias Aldi (23), pemuda yang dikenal sebagai warga sekitar, melangkah keluar rumah dalam pengaruh alkohol. Di pinggangnya terselip sebilah pisau stainless. Ia menyusuri jalanan Kota Bitung, bukan untuk mencari kedamaian, melainkan dendam. Menurut keterangan polisi, Aldi tak mampu menerima kenyataan bahwa hubungan asmaranya dengan NM telah berakhir. Putus cinta menjadi bara yang membakar akal sehatnya.

Ketika Aldi menemukan NM sedang duduk di atas motor bersama temannya, ia tak berbicara banyak. Pisau yang dibawanya langsung menghujam pinggang belakang NM. Satu tikaman, cukup untuk mengubah malam itu menjadi mimpi buruk. Tubuh NM roboh, dan darah mengalir di jalanan yang sepi.

Ironisnya, setelah melakukan penikaman, Aldi sempat membawa NM ke Rumah Sakit Budi Mulia Bitung. Sebuah tindakan yang menunjukkan sisa-sisa kepedulian, atau mungkin rasa bersalah. Tapi ia tak bertahan lama. Aldi melarikan diri, meninggalkan NM dalam kondisi terluka dan ketakutan.









Keluarga korban yang mengetahui kejadian tersebut segera melapor ke Polres Bitung. Tim Patroli II Tarsius Presisi yang dipimpin AIPTU Denhar Papente bergerak cepat. Dalam waktu satu jam, pelaku berhasil ditangkap di Kelurahan Wangurer Barat. Pisau yang sempat dibuang ke selokan pun ditemukan dan diamankan sebagai barang bukti.

Bagi NM, luka fisik mungkin akan sembuh. Tapi trauma emosional akibat kekerasan dari orang yang pernah ia percaya bisa bertahan jauh lebih lama. Ia bukan hanya korban penikaman, tapi juga korban dari relasi yang gagal memahami batas dan penghormatan terhadap keputusan pribadi. Cinta yang seharusnya menjadi ruang aman, berubah menjadi ancaman.

Aldi kini ditahan di Mapolres Bitung dan dijerat dengan pasal penganiayaan terhadap anak di bawah umur menggunakan senjata tajam. Proses hukum berjalan, tapi masyarakat bertanya: bagaimana kita bisa mencegah tragedi seperti ini terjadi lagi?

Di balik berita kriminal ini, ada pelajaran tentang pentingnya edukasi emosional, terutama bagi anak muda. Bahwa cinta bukan alasan untuk menguasai, dan perpisahan bukan pembenaran untuk melukai. Karena cinta yang sehat seharusnya tak pernah berujung pada luka.