Bacatrend, PATI — Di tengah dominasi nasi gandul dan soto kemiri sebagai ikon kuliner Kabupaten Pati, satu hidangan tradisional mulai mencuri perhatian para penikmat makanan khas: Petis Runting.

Berasal dari Dukuh Runting, Desa Tambakharjo, Kecamatan Pati, sajian ini menawarkan cita rasa gulai yang unik—tanpa santan, namun tetap kaya rempah dan gurih.

Petis Runting dikenal sebagai gulai tulang kambing atau sapi yang dimasak dengan tepung beras sangrai, menghasilkan kuah kental berwarna kecokelatan. Berbeda dari gulai pada umumnya, kuah Petis Runting tidak berminyak dan memiliki aroma khas yang menggoda. Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, merica, laos, dan daun salam berpadu dengan gula merah atau kecap, menciptakan rasa yang dalam dan hangat.

Sajian ini biasanya disandingkan dengan sate kambing atau ayam, menambah kekayaan rasa dan tekstur dalam satu piring. “Kuahnya gurih, kental, dan cocok banget dimakan bareng sate. Rasanya beda dari gulai biasa,” ujar Tutik, salah satu penjual Petis Runting yang sudah berjualan sejak belasan tahun lalu.









Harga seporsi Petis Runting cukup terjangkau, berkisar Rp 7.000 hingga Rp 10.000, tergantung jenis daging dan warung yang menyajikan. Meski belum setenar nasi gandul, popularitas Petis Runting mulai meningkat, terutama saat momen Idul Adha, ketika daging kambing melimpah dan warga Pati ramai-ramai memasaknya sebagai hidangan keluarga.

Kuliner ini bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari tradisi dan identitas lokal. Resepnya diwariskan turun-temurun, menjadi simbol kekayaan rasa dan budaya kuliner Pati yang layak mendapat sorotan lebih luas.