Bacatrend, PEMALANG — Di sebuah warung sederhana di sudut Alun-alun Pemalang, asap tipis mengepul dari mangkuk kecil yang disajikan hangat kepada pelanggan. Di dalamnya, nasi putih pulen dan potongan daging kerbau tampak bergoyang pelan, seolah menari dalam kuah hitam pekat yang kaya rempah. Inilah Nasi Grombyang, kuliner khas Pemalang yang tak hanya menggoda lidah, tapi juga menyimpan cerita panjang tentang tradisi, rasa, dan identitas.

Nama “grombyang” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang berarti “bergoyang-goyang”. Filosofi ini bukan sekadar permainan kata, melainkan cerminan dari cara penyajian: kuah yang melimpah membuat isi mangkuk tampak terapung dan bergerak. Sensasi visual ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mencicipinya.

Warisan Rasa dari Era Haji Warso
Sejarah mencatat bahwa Nasi Grombyang mulai dikenal luas sejak tahun 1960-an, ketika seorang penjual keliling bernama Haji Warso mulai menyajikan hidangan ini di kawasan Pemalang. Warung-warung yang menjajakan Nasi Grombyang hingga kini masih menyematkan nama Warso sebagai bentuk penghormatan terhadap pelopor kuliner ini.

Di balik kuahnya yang gelap dan aromatik, tersembunyi racikan rempah yang kompleks: kluwek, kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, pala, dan serundeng. Daging kerbau yang diiris tipis dimasak hingga empuk, lalu disiram dengan kuah gurih yang sedikit manis dan pedas hangat. Sebagai pelengkap, satu tusuk sate kerbau biasanya disajikan di sisi mangkuk, ditaburi kelapa sangrai yang menambah lapisan rasa.









Dari Warung ke Warisan Budaya
Tak hanya menggugah selera, Nasi Grombyang juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2021. Pengakuan ini menegaskan bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa, tapi juga tentang identitas dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Secara gizi, seporsi Nasi Grombyang mengandung sekitar 415 kalori, dengan protein dan lemak yang cukup tinggi berkat penggunaan serundeng dan daging kerbau. Meski demikian, hidangan ini tetap menjadi pilihan favorit masyarakat, terutama saat cuaca dingin atau sebagai menu makan malam yang menghangatkan.

Bergoyang di Lidah Generasi Muda
Menariknya, Nasi Grombyang tak hanya digemari oleh kalangan tua. Generasi muda mulai melirik kuliner ini sebagai bagian dari eksplorasi rasa dan budaya. Sensasi “bergoyang” dalam mangkuk, rasa autentik yang sulit ditemukan di restoran modern, serta penyajian yang unik membuat Nasi Grombyang tampil relevan di tengah tren kuliner kekinian.

“Rasanya beda. Gurihnya dalam, kuahnya kaya, dan ada nostalgia di setiap suapan,” ujar Raka, mahasiswa asal Semarang yang rutin mampir ke Pemalang untuk menikmati semangkuk Nasi Grombyang.