Bacatrend, Jakarta – Setiap pagi, seperti ritual penuh kasih, seorang ibu menaburkan bedak ke tubuh bayinya. Wangi lembut dan tekstur halus seolah menjadi simbol kehangatan. Tapi di balik kelembutan itu, tersimpan risiko yang tak banyak disadari: partikel halus yang bisa mengganggu pernapasan, memicu iritasi, bahkan dikaitkan dengan kanker.

Di ruang praktiknya di Jakarta, dr. Rina Maharani, Sp.A, kerap menerima pasien bayi dengan keluhan batuk dan sesak napas. “Orang tua sering tidak sadar bahwa bedak yang mereka gunakan bisa terhirup oleh bayi. Saluran napas bayi masih sangat rentan,” ujarnya.

Napas yang Terancam

Bedak bayi berbahan dasar talc memiliki partikel mikroskopis yang mudah beterbangan dan terhirup. Studi dari Toxicological Research menyebutkan bahwa paparan talc melalui inhalasi, meski dalam kadar rendah, tetap berisiko jika dilakukan berulang. Bayi bisa mengalami batuk, mengi, bahkan pneumonia.









“Pernah ada kasus bayi yang harus dirawat karena radang paru-paru, dan setelah ditelusuri, ternyata orang tuanya rutin menaburkan bedak langsung ke dada dan leher,” kata dr. Rina.

Kulit Lembut, Risiko Tinggi

Selain gangguan pernapasan, bedak juga bisa memicu iritasi kulit. Kulit bayi yang tipis dan sensitif mudah mengalami ruam jika pori-porinya tersumbat. “Bedak bukan solusi untuk semua masalah kulit bayi. Kadang justru memperparah ruam popok,” tambahnya.

Talc dan Bayang-Bayang Kanker

Isu yang lebih mengkhawatirkan datang dari ranah hukum dan industri. Johnson & Johnson, salah satu produsen bedak bayi terbesar, telah menghentikan produksi bedak berbasis talc secara global. Lebih dari 40.000 gugatan hukum dilayangkan, sebagian besar terkait kanker ovarium dan paru-paru.

Jurnal Pharmaceutical Research and Technology mencatat bahwa penggunaan talc di area genital dapat meningkatkan risiko kanker ovarium. Meski kontroversial, temuan ini membuat banyak orang tua mulai mempertimbangkan ulang pilihan produk bayi mereka.

Cara Aman Menjaga Kesejukan Bayi

Lalu, apakah bedak bayi harus dihindari sepenuhnya? Tidak selalu. Yang penting adalah cara penggunaannya.

Menurut dr. Rina, bedak sebaiknya dituang ke tangan terlebih dahulu, lalu diusapkan tipis ke bagian tubuh bayi yang mudah berkeringat seperti leher dan punggung. Hindari area wajah, hidung, dan kelamin. “Dan pastikan kulit bayi kering sebelum diberi bedak,” tegasnya.

Alternatif yang lebih aman adalah bedak berbahan dasar cornstarch, yang tidak mengandung asbes dan lebih ramah bagi saluran napas bayi. Produk dengan label hypoallergenic dan terdaftar di BPOM juga menjadi pilihan bijak.

Menimbang Tradisi dan Ilmu

Di banyak keluarga Indonesia, penggunaan bedak bayi adalah tradisi turun-temurun. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, tradisi perlu ditinjau ulang. “Kasih sayang bukan hanya soal kebiasaan, tapi juga soal perlindungan,” kata dr. Rina, menutup wawancara.

Bedak bayi mungkin tampak sepele, tapi dampaknya bisa besar. Di balik wangi lembut dan kemasan pastel, ada pelajaran penting: bahwa yang terbaik untuk bayi bukan selalu yang paling umum, melainkan yang paling aman.