Pulau Seprapat Juwana: Seperempat Tanah, Sepenuh Cerita
Bacatrend, PATI — Di tengah hamparan tambak dan alur Sungai Silugonggo, berdiri sebuah pulau kecil yang menyimpan legenda, ketenangan, dan jejak spiritual: Pulau Seprapat. Luasnya tak lebih dari seperempat hektare, tapi kisah yang mengelilinginya jauh lebih besar dari ukuran tanahnya.
Nama “Seprapat” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “seperempat”. Konon, seorang musafir dari Tiongkok bernama Dampo Awang meninggalkan seperempat hartanya di pulau ini saat menjelajahi pesisir utara Jawa. Cerita itu menjadi bagian dari narasi lokal yang diwariskan turun-temurun, menjadikan pulau ini bukan sekadar daratan, tapi juga ruang ingatan.
Di tengah pulau, berdiri sebuah mushola kecil yang juga menjadi makam tokoh spiritual bernama Syekh Datuk Lodang Wali Joko. Ia diyakini sebagai petapa dari zaman Majapahit yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah pesisir. Setiap bulan Syawal, masyarakat menggelar tradisi Sedekah Laut dan ziarah ke pulau ini, membawa perahu dan doa dalam satu perjalanan spiritual.
Namun, Pulau Seprapat bukan hanya tentang ziarah. Ia juga menjadi tempat favorit para pemburu senja. Dari sore yang tenang, pengunjung bisa menyaksikan matahari tenggelam di balik siluet Gunung Muria, ditemani semilir angin dan suara kera yang kadang melintas di antara pepohonan tua.
Meski belum dikelola secara optimal, pulau ini tetap menarik hati. Warung-warung kecil menjual makanan ringan, dan fasilitas seperti toilet, mushola, serta area parkir tersedia. Tak ada tiket masuk—hanya niat dan rasa ingin tahu yang membawa orang ke sini.
“Pulau ini seperti ruang jeda. Di sini, kita bisa diam, mendengar, dan merasa,” ujar seorang pengunjung yang datang dari Kudus.
Di tengah gempuran wisata modern, Pulau Seprapat berdiri sebagai pengingat bahwa keindahan tak selalu harus ramai. Kadang, ia cukup hadir dalam sunyi, dalam cerita, dan dalam seperempat tanah yang menyimpan sepenuh makna.











Tinggalkan Balasan