Kopi Wonosalam, Aroma Lereng Anjasmoro yang Menyimpan Harapan
Bacatrend, Jombang – Kabut pagi masih menggantung di lereng Pegunungan Anjasmoro ketika suara mesin sangrai mulai terdengar dari dapur-dapur kecil di Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang. Di tengah sejuknya udara pegunungan, aroma kopi yang baru disangrai menyeruak, menyatu dengan bau tanah basah dan dedaunan yang baru tersiram embun. Bagi warga Wonosalam, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah warisan, identitas, dan harapan yang tumbuh dari tanah tinggi.
Di atas ketinggian 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut, kopi robusta, arabika, dan excelsa tumbuh berdampingan dengan durian dan manggis. Tapi yang paling istimewa adalah kopi excelsa—varietas langka yang hanya menyumbang sebagian kecil dari produksi kopi dunia. Rasanya kompleks, aromanya kuat, dan daya tahannya tinggi terhadap perubahan iklim. “Excelsa ini unik. Bisa tumbuh di lahan yang tidak cocok untuk kopi lain,” ujar Endrias Bambang, Ketua Asosiasi Kopi Wonosalam. Ia menyebutkan bahwa biji excelsa dari Wonosalam kini mulai diekspor ke Malaysia, Jepang, dan Jerman.
Di balik geliat ekspor, ada cerita dari dapur-dapur kecil yang menjadi titik awal transformasi. Suliyanti, ibu rumah tangga di Dusun Arjosari, memroses kopi robusta secara tradisional. Ia menggoreng biji kopi dengan api kecil, menggilingnya secara manual, lalu mengemasnya sendiri. “Awalnya karena banyak biji kopi yang tidak laku. Saya coba olah sendiri, ternyata banyak yang suka,” katanya sambil menunjukkan kemasan kopi bubuk buatannya. Kini, kopi Suliyanti dijual di warung-warung lokal dan mulai dikenal di luar Jombang. Rasanya pahit khas, dengan aroma tanah dan sedikit sentuhan cokelat.
Wisatawan yang datang ke Wonosalam tak hanya menikmati udara sejuk, tapi juga bisa mencicipi kopi langsung dari sumbernya. Di sepanjang jalan menuju Agrowisata Wonosalam, berdiri kedai-kedai kecil yang menyajikan kopi lokal dengan suasana alam terbuka. Salah satunya adalah rcw coffee wonosalam, kedai sederhana dengan bangku kayu dan pemandangan kebun kopi. Ada juga Tanah Senja, tempat ngopi yang menyajikan kopi excelsa sambil menatap kabut yang turun perlahan dari bukit. “Ngopi di sini beda rasanya. Ada aroma tanah, ada cerita di balik setiap cangkir,” ujar Dimas, wisatawan asal Surabaya yang rutin berkunjung ke Wonosalam.
Di balik setiap biji kopi Wonosalam, ada tangan-tangan petani yang bekerja dalam diam. Mereka menanam, memanen, dan mengolah dengan cara yang diwariskan turun-temurun. Di tengah tantangan pasar dan perubahan iklim, kopi menjadi simbol ketekunan dan inovasi. Kopi Wonosalam bukan hanya soal rasa. Ia adalah narasi tentang tanah, tentang manusia, dan tentang harapan yang tumbuh perlahan di lereng Anjasmoro.











Tinggalkan Balasan