Bacatrend, Jakarta — Di tengah terik matahari dan hiruk-pikuk pasar tradisional, seorang pedagang buah menyodorkan potongan nanas segar kepada pembeli. Rasanya manis, sedikit asam, dan menyisakan sensasi menyegarkan di lidah. Namun di balik kenikmatan itu, nanas menyimpan khasiat kesehatan yang jauh lebih dalam—khasiat yang mulai menarik perhatian dunia medis internasional.

Dikenal secara ilmiah sebagai Ananas comosus, buah tropis ini bukan sekadar pelengkap rujak atau topping pizza. Penelitian dari berbagai jurnal asing, termasuk Journal of Ethnopharmacology dan International Journal of Nutrition and Food Sciences, menunjukkan bahwa nanas mengandung bromelain—enzim proteolitik yang memiliki efek anti-inflamasi, antikoagulasi, bahkan potensi antikanker.

“Bromelain dalam nanas telah terbukti membantu pemulihan pasca operasi dan mengurangi nyeri sendi,” tulis tim peneliti dari National Institutes of Health (NIH) dalam laporan tahunannya.

Tak hanya itu, kandungan vitamin C yang tinggi menjadikan nanas sebagai buah yang mendukung sistem imun tubuh. Dalam satu porsi (sekitar 165 gram), nanas menyumbang hampir 90% kebutuhan harian vitamin C. Kombinasi ini membantu tubuh melawan infeksi, mempercepat penyembuhan luka, dan menjaga kesehatan kulit melalui produksi kolagen.









Di Sumobito, buah ini bukan barang langka. Namun pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi segar atau olahan manisan. Padahal, menurut ahli gizi dari Universitas Airlangga, potensi nanas sebagai terapi alami belum sepenuhnya dimanfaatkan.

“Kita sering lupa bahwa makanan lokal seperti nanas bisa menjadi bagian dari intervensi kesehatan masyarakat, terutama untuk pencernaan dan imunitas,” ujar Dr. Rini Kartikasari, M.Gizi.

Selain itu, mangan dalam nanas berperan penting dalam pembentukan tulang dan metabolisme energi. Studi dari Harvard School of Public Health menyebutkan bahwa konsumsi rutin nanas dapat membantu mencegah osteoporosis, terutama pada perempuan usia lanjut.

Namun, seperti halnya buah lain, nanas juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Kandungan asamnya bisa menyebabkan iritasi mulut jika dikonsumsi berlebihan. Bagi penderita diabetes, disarankan untuk menghindari olahan nanas kalengan atau jus dengan tambahan gula.

Di tengah tren gaya hidup sehat dan kembali ke pangan lokal, nanas menawarkan lebih dari sekadar rasa. Ia adalah simbol dari kekayaan tropis yang menyimpan potensi penyembuhan, jika kita bersedia melihatnya lebih dekat.