Bacatrend, Blora – Suasana Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Blora, berubah drastis dalam hitungan menit pada Minggu siang, 17 Agustus 2025. Ledakan keras disertai semburan gas dari sebuah sumur tua milik warga memicu kobaran api yang menjulang tinggi, melahap area sekitar dan memaksa puluhan warga berlarian menyelamatkan diri. Sumur rakyat yang selama ini menjadi sumber penghidupan, justru menjadi pemicu tragedi yang menewaskan tiga orang dan melukai dua lainnya.

Mbah Tanek, seorang petani berusia 60 tahun, dilaporkan meninggal di lokasi kejadian. Sementara Mbah Sureni dan Wasini, dua perempuan lanjut usia dari Dukuh Gendono dan Dusun Bendono, sempat dirawat di rumah sakit namun tak tertolong akibat luka bakar serius yang mencapai 90 persen. Dua korban lainnya, Yeti dan anak balitanya, kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Sardjito Yogyakarta setelah dirujuk dari Blora. Kondisi mereka kritis, dan proses rujukan pun sempat terkendala oleh keterbatasan fasilitas dan tenaga medis.

Kebakaran yang dipicu oleh blowout—semburan gas bertekanan tinggi dari sumur minyak ilegal—terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Menurut keterangan warga dan aparat, kobaran api muncul dari selokan belakang rumah dan menjalar cepat ke titik pengeboran. Api yang membumbung disertai asap hitam pekat membuat suasana desa mencekam. Tim gabungan dari BPBD, Pertamina, dan Badan Pengelola Energi langsung diterjunkan untuk memadamkan api dan mengamankan lokasi.

Sebanyak 50 kepala keluarga terpaksa diungsikan ke rumah kerabat dan lokasi yang lebih aman. Evakuasi dilakukan dengan cepat, termasuk penyelamatan hewan ternak warga. Enam ekor sapi dan tiga kambing berhasil diselamatkan, meski satu sapi dan dua kambing dilaporkan tewas terpanggang. Satu rumah rusak berat dan empat lainnya mengalami kerusakan sedang akibat kobaran api yang tak kunjung padam hingga Senin pagi.









Pihak kepolisian telah memasang garis polisi di sekitar lokasi dan masih menyelidiki status hukum sumur minyak tersebut. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas pengeboran ilegal tanpa standar keselamatan. Peristiwa ini kembali menyoroti bahaya eksplorasi energi tanpa pengawasan, terutama di wilayah-wilayah yang kaya sumber daya namun minim regulasi.

Di tengah duka dan kepanikan, warga Dukuh Gendono kini menghadapi kenyataan pahit: kehilangan orang tercinta, rumah yang rusak, dan trauma yang membekas. Sementara itu, pemerintah daerah dan lembaga terkait terus berupaya menyalurkan bantuan logistik, sembako, dan layanan medis bagi para pengungsi. Kobaran api mungkin akan padam, tapi luka yang ditinggalkan oleh tragedi ini akan lama sembuhnya.