Bacatrend, Redaksi – Raya tidak semestinya mati seperti itu. Bocah kecil berumur 3 tahun yang tubuhnya dipenuhi cacing gelang, meregang nyawa dalam kondisi yang tak layak disebut sebagai kehidupan.

Dibalik tubuh mungilnya yang digerogoti parasit, tersimpan kisah keluarga yang terpinggirkan: seorang ibu dengan gangguan jiwa, seorang ayah yang terbaring lemah karena TBC, dan rumah yang tak lagi mampu melindungi dari kelaparan, infeksi, atau keputusasaan.

Kematian Raya yang tercatat sebagai warga Sukabumi, Jawa Barat bukan menjadi sekadar tragedi pribadi. Ia adalah potret buram dari sistem yang gagal menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Ketika anak-anak seperti Raya tumbuh tanpa gizi, tanpa sanitasi, tanpa perlindungan medis, kita harus bertanya: di mana negara? Di mana masyarakat? Di mana kita?

Cacing gelang bukan penyakit baru. Ia mudah dicegah, mudah diobati. Tapi bagi keluarga seperti Raya, bahkan hal yang “mudah” menjadi mustahil. Minimnya akses terhadap layanan kesehatan dasar, kurangnya edukasi tentang kebersihan, dan nihilnya intervensi dari aparat kesehatan setempat menunjukkan bahwa sistem kita masih terlalu sibuk di pusat, dan terlalu sunyi di pinggiran.









Petugas kesehatan desa, kader posyandu, dan dinas terkait seharusnya menjadi garda terdepan. Tapi apakah mereka tahu tentang kondisi keluarga Raya? Jika tahu, mengapa tak ada tindakan? Jika tidak tahu, mengapa mereka tak menjangkau?

Ibu Raya adalah ODGJ. Ayahnya sakit parah. Dalam kondisi seperti itu, siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan anak? Negara memiliki kewajiban hukum dan moral untuk turun tangan. Perlindungan anak bukan sekadar slogan, tapi tindakan nyata—mulai dari pemantauan keluarga rentan, pemberian bantuan sosial, hingga penempatan anak dalam lingkungan yang aman jika orang tua tak mampu.

Masyarakat yang terlalu biasa dengan derita. Kita juga harus menyoroti sikap masyarakat. Terlalu sering, kemiskinan dan gangguan jiwa dianggap “takdir” yang tak perlu dicampuri. Padahal, diam adalah bentuk lain dari pembiaran. Ketika tetangga tahu tapi tak melapor, ketika desa melihat tapi tak bertindak, kita semua ikut membiarkan Raya mati.

Kisah Raya harus menjadi titik balik. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem deteksi dini keluarga rentan. Petugas kesehatan harus aktif menjangkau, bukan menunggu. Masyarakat harus didorong untuk peduli, bukan sekadar prihatin. Dan media, termasuk kami, harus terus mengangkat suara-suara yang nyaris tak terdengar.

Raya telah pergi. Tapi semoga kepergiannya menggugah kita untuk tidak membiarkan anak-anak lain menyusulnya dalam senyap.