Lethok: Rasa Gurih dari Tempe Semangit, Warisan Kuliner Ngawi
Bacatrend, Ngawi – Di sudut-sudut warung kecil Ngawi, aroma khas yang menggoda sering kali berasal dari seporsi makanan sederhana bernama lethok. Bagi masyarakat lokal, lethok bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari identitas kuliner yang diwariskan lintas generasi.
Terbuat dari tempe semangit—tempe yang telah melewati masa fermentasi ideal dan mulai mengeluarkan aroma tajam—lethok justru memanfaatkan karakter itu sebagai kekuatan rasa.
Tempe ini dimasak bersama santan, bawang merah, bawang putih, cabai, dan kencur, menghasilkan kuah kental berwarna coklat kemerahan yang gurih, pedas, dan berlapis.
Di beberapa warung, lethok disajikan bersama nasi hangat dan urap sayur, atau dipadukan dengan pecel dalam sajian yang dikenal sebagai pecel lethok.
Kombinasi ini menciptakan harmoni rasa antara pedas kacang dan gurih fermentasi, menjadikannya favorit bagi mereka yang mencari kehangatan dan keotentikan dalam satu piring.
Meski tampilannya sederhana, lethok menyimpan jejak sejarah panjang. Menurut catatan Balai Bahasa Jawa Timur dan Bappelitbang Ngawi, makanan ini muncul dari kreativitas masyarakat yang memanfaatkan bagian sapi yang tidak dikonsumsi oleh orang Belanda—seperti babat dan jeroan—untuk diolah bersama tempe semangit menjadi hidangan bergizi dan lezat.
“Lethok adalah bentuk kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana menjadi hidangan yang kaya rasa dan nilai gizi,” tulis SuperApp dalam ulasan kuliner khas Ngawi.
Di balik kuah pekat dan aroma tajamnya, lethok menyuarakan filosofi ketahanan pangan dan kearifan lokal. Ia mencerminkan bagaimana masyarakat Ngawi mampu mengolah keterbatasan menjadi kekuatan, baik secara rasa maupun nilai budaya.
Tak heran jika lethok tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern, menjadi simbol kehangatan rumah dan tradisi yang tak lekang oleh waktu.











Tinggalkan Balasan