Rumah Eko Patrio Dijarah Massa Usai Aksi Joget di Sidang MPR Viral
Bacatrend, Jakarta — Rumah anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Eko Patrio, dijarah massa pada Sabtu malam (30/8) di kawasan Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Insiden ini terjadi menyusul kemarahan publik atas aksi joget Eko dalam Sidang Tahunan MPR RI yang viral di media sosial.
Sekitar pukul 20.00 WIB, ratusan warga berkumpul di depan kompleks perumahan elite tempat Eko tinggal. Portal keamanan sempat ditutup, namun akhirnya dibuka paksa oleh massa yang terus berdatangan. Mereka merobohkan pagar besi dan mendobrak pintu rumah, lalu mengangkut berbagai barang dari dalam rumah tanpa perlawanan berarti.
Barang-barang yang dijarah meliputi peralatan elektronik, perabot rumah tangga, pakaian, tas mewah, hingga sandal jepit. Rekaman video amatir menunjukkan suasana kacau, dengan warga lalu-lalang membawa hasil jarahan. Beberapa pelaku tampak mengenakan jaket ojek online.
Aksi penjarahan ini dipicu oleh kemarahan publik terhadap perilaku Eko Patrio yang dinilai tidak peka terhadap kondisi rakyat. Dalam video yang beredar luas, Eko terlihat berjoget bersama sejumlah anggota DPR lain saat Sidang MPR berlangsung, di tengah situasi ekonomi yang sulit dan gelombang PHK massal.
Kemarahan publik semakin memuncak setelah beredar kabar mengenai kenaikan gaji anggota DPR sebesar Rp3 juta per hari dan tunjangan perumahan Rp50 juta per bulan. “Anggota DPR joget-joget sementara rakyat susah. Ini namanya tidak peka,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Menanggapi insiden tersebut, Eko Patrio menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram pribadinya. Dalam video berdurasi dua menit, ia tampil bersama koleganya, Pasha Ungu, dan menyatakan:
“Dengan penuh kerendahan hati, saya Eko Patrio menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada masyarakat atas keresahan yang timbul akibat perbuatan yang saya lakukan. Saya mendengar seluruh aspirasi masyarakat mengenai kekecewaan yang ada.”
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penjarahan tersebut. Namun, sejumlah pengamat menilai insiden ini sebagai bentuk ekspresi kemarahan kolektif terhadap elite politik yang dianggap abai terhadap realitas rakyat.











Tinggalkan Balasan