Bacatrend, PROBOLINGGO — Di sudut tenang Kecamatan Wonoasih, tepatnya di Kelurahan Jrebeng Kidul, sebuah telaga kecil bernama Sumber Sentong perlahan mencuri perhatian warga dan pelancong lokal. Bukan karena kemegahan fasilitasnya, melainkan karena kesederhanaannya yang menyentuh, dan kisah komunitas yang menjaganya dengan sepenuh hati.

Dulu, Sumber Sentong hanyalah genangan air yang nyaris terlupakan. Dipenuhi eceng gondok dan minim akses, ia lebih dikenal sebagai tempat warga mengambil air bersih menggunakan gentong—asal-usul nama “Sentong” yang kini menjadi identitas lokal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah telaga ini berubah. Berkat gotong royong warga dan dorongan pemerintah kota, Sumber Sentong kini menjadi ruang publik yang bersih, sejuk, dan penuh makna ekologis.

“Airnya nggak pernah kering, bahkan pas kemarau,” ujar Pak Suyatno, warga sekitar yang rutin memancing di telaga. “Dulu cuma tempat ambil air, sekarang jadi tempat kumpul, tempat anak-anak main, tempat orang cari ketenangan.”

Dengan luas sekitar 3.000 meter persegi, telaga ini menawarkan suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota. Airnya jernih, pepohonan rindang mengelilingi tepian, dan suara alam menjadi latar yang konstan. Beberapa perahu kecil tersedia untuk pengunjung yang ingin menyusuri permukaan air, sementara bangku-bangku bambu menjadi tempat favorit untuk sekadar duduk dan menikmati sore.









Namun daya tarik Sumber Sentong bukan hanya pada keindahan alamnya. Ia juga menjadi ruang sosial yang hidup. Setiap akhir pekan, warga berkumpul di sini—anak-anak bermain, pedagang menjajakan jajanan tradisional, dan komunitas lokal menggelar kegiatan edukatif. Di tengah kota yang terus tumbuh, Sumber Sentong menjadi pengingat bahwa ruang hijau bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan.

“Ini bukan tempat wisata besar, tapi punya jiwa,” kata Lilis, pengunjung dari Kecamatan Kanigaran. “Rasanya kayak pulang ke kampung halaman, walau cuma beberapa kilometer dari rumah.”

Akses menuju lokasi cukup mudah. Dari pusat Kota Probolinggo, pengunjung hanya perlu menempuh perjalanan singkat ke Jalan Sunan Bonang. Tiket masuk pun sangat terjangkau, hanya Rp2.000 per orang, menjadikannya destinasi inklusif bagi semua kalangan.

Meski fasilitasnya masih sederhana—toilet umum, warung kecil, dan beberapa spot foto—semangat pelestarian terus tumbuh. Komunitas lokal aktif menjaga kebersihan, menanam pohon, dan mengedukasi pengunjung tentang pentingnya menjaga sumber mata air.

Di tengah isu urbanisasi dan krisis lingkungan, Sumber Sentong menjadi contoh bagaimana ruang alam bisa tumbuh bersama masyarakat. Ia bukan hanya telaga, tapi juga cermin hubungan manusia dengan alam—hubungan yang dibangun dari rasa hormat, cinta, dan tanggung jawab.