Bacatrend, Deli Serdang — Gulai Ikan Baung, kuliner khas dari wilayah Deli Serdang dan sekitarnya, terus bertahan sebagai warisan rasa yang mengikat generasi. Sajian ini bukan hanya menggugah selera, tetapi juga mencerminkan keterhubungan antara alam sungai, dapur tradisional, dan nilai kebersamaan masyarakat Melayu pesisir.

Ikan baung, bahan utama gulai ini, merupakan ikan air tawar yang hidup di sungai dan rawa. Dagingnya lembut dan tidak berduri halus, menjadikannya favorit dalam berbagai jamuan adat dan kenduri. Di Deli Serdang, gulai ikan baung kerap disajikan dalam acara keluarga dan pesta kampung.

Kuah gulai yang kental berwarna kuning keemasan dihasilkan dari perpaduan santan dan rempah seperti kunyit, lengkuas, serai, bawang, cabai, dan asam belimbing. Aroma khas daun kemangi dan daun jeruk menambah kompleksitas rasa. Versi lokal dikenal sebagai Gulai Asam Ikan Baung, dengan sentuhan segar dari belimbing wuluh.

“Gulai baung itu bukan sekadar lauk, tapi bagian dari identitas dapur kami,” ujar Nurhayati (52), juru masak tradisional di Kecamatan Lubuk Pakam.









Selain cita rasa, gulai ikan baung juga kaya manfaat. Ikan baung mengandung protein tinggi, omega-3, dan kolagen, yang dipercaya membantu kesehatan kulit dan pencernaan. Rempah seperti kunyit dan kemiri memberi efek anti-inflamasi alami.

Di berbagai daerah Sumatera Timur, gulai baung memiliki variasi. Di pesisir Asahan, dikenal versi asam pedas yang lebih cair dan pedas. Di Batak hilir, gulai baung kadang dipadukan dengan andaliman dan daun singkong.

Meski dapur modern mulai mengubah cara memasak, gulai ikan baung tetap bertahan sebagai simbol rasa dan tradisi. Pemerhati kuliner lokal berharap sajian ini terus dikenalkan kepada generasi muda melalui festival kuliner dan edukasi budaya.