Olan-Olan Turi, Kuliner Ekstrem Khas Gunung Kidul yang Hanya Muncul Musim Saat Hujan
Bacatrend, Gunung Kidul – Bagi sebagian orang, menu lauk sehari-hari mungkin berupa ayam goreng, tempe, atau sambal. Namun, di pedesaan Gunung Kidul, ada kuliner unik yang selalu dinanti ketika musim hujan tiba: olan-olan, ulat putih besar yang hidup di batang pohon turi.
Olan-olan sudah lama dikenal masyarakat sebagai sumber protein alternatif. Wujudnya menyerupai ulat gemuk tanpa bulu, berwarna pucat, dan biasanya bersembunyi di pangkal batang pohon turi. Tidak sembarang waktu orang bisa menikmatinya, karena panganan ini hanya muncul pada musim tertentu, terutama awal penghujan.
“Kalau musim hujan, di pangkal pohon turi sering muncul olan-olan. Rasanya gurih kalau digoreng kering,” tutur Sumarno, warga Playen, Gunung Kidul, saat ditemui di ladang.
Meski bagi orang luar terlihat ekstrem, masyarakat setempat sudah terbiasa menyantapnya. Cara pengolahannya sederhana. Olan-olan bisa digoreng garing dengan bumbu bawang, dicampur sambal pedas, atau dijadikan campuran lauk pauk. Teksturnya empuk dan kenyal, dengan rasa gurih yang netral sehingga mudah berpadu dengan bumbu apa pun.
Tak hanya soal rasa, kuliner ini juga punya nilai budaya. Tradisi mencari olan-olan di pangkal pohon turi menjadi pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Para petani tahu persis tanda-tanda pohon yang menyimpan ulat ini.
Namun, keberadaan olan-olan memang terbatas. Musimnya singkat, jumlahnya tidak selalu banyak, dan jarang dijual di pasar. Itulah sebabnya, panganan ini lebih sering ditemukan di rumah-rumah warga atau warung kecil yang masih melestarikan menu tradisional.
Bagi wisatawan yang gemar mencoba kuliner ekstrem, olan-olan bisa menjadi pengalaman tak terlupakan ketika singgah ke Gunung Kidul. Selain memberi sensasi rasa yang unik, panganan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumber pangan alternatif dari alam sekitar.
Di balik wujudnya yang tak lazim, olan-olan adalah bukti kreativitas orang Gunung Kidul dalam menjaga tradisi kuliner sekaligus memenuhi kebutuhan gizi, khususnya protein, dengan cara yang sederhana.











Tinggalkan Balasan