Ribuan Ojol Hari ini Gelar Demo, Suarakan 7 Tuntutan Pada Pemerintah
Bacatrend, Jakarta – Ribuan pengemudi ojek online dari berbagai daerah memadati ruas-ruas strategis Jakarta pagi ini dalam aksi demonstrasi bertajuk “179 Ojol”. Aksi ini digagas oleh Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA) Indonesia, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan mitra pengemudi transportasi daring.
Menurut Ketua Umum GARDA Indonesia, Raden Igun Wicaksono, aksi dimulai dari Kementerian Perhubungan, dilanjutkan ke Istana Presiden, dan berakhir di depan Gedung DPR RI. Estimasi jumlah peserta berkisar antara 2.000 hingga 5.000 orang, termasuk pengemudi roda dua, roda empat, kurir online, serta aliansi mahasiswa seperti BEM UI.
Aksi ini bukan hanya unjuk rasa fisik, tetapi juga digital: sebagian besar pengemudi melakukan “off bid massal”, yakni mematikan aplikasi secara serentak sebagai bentuk solidaritas. GARDA mengimbau masyarakat Jakarta untuk menggunakan moda transportasi alternatif sepanjang hari ini.
Tujuh Tuntutan Utama Aksi “179 Ojol”
RUU Transportasi Online agar masuk dalam Prolegnas 2025–2026, demi perlindungan hukum dan kepastian kerja bagi pengemudi.
Potongan komisi aplikator maksimal 10%, sebagai batas wajar yang adil bagi mitra pengemudi.
Regulasi tarif pengantaran barang dan makanan, agar tidak ditentukan sepihak oleh aplikator.
Audit investigatif atas potongan 5% yang selama ini diberlakukan oleh aplikator, karena dinilai tidak transparan.
Penghapusan program-program merugikan, seperti Argo Goceng (Aceng), Slot, Multi Order, dan Member Berbayar.
Pencopotan Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandi, yang dinilai lebih berpihak pada perusahaan aplikasi daripada pengemudi.
Pengusutan tragedi 28 Agustus 2025, yang menewaskan pengemudi ojol Affan Kurniawan, diduga akibat kelalaian aparat.
Di balik tuntutan-tuntutan tersebut, tersirat kekecewaan mendalam terhadap apa yang disebut sebagai “vendor-driven policy”—kebijakan yang dianggap lebih menguntungkan korporasi daripada pekerja jalanan. “Kami akan pastikan suara ini sampai ke Istana dan DPR,” tegas Igun dalam pernyataan resminya.
Namun, tidak semua komunitas pengemudi sepakat. Ketua Korwil Ojol Jakarta Utara, Mansyur, menyatakan bahwa sekitar 2.000 anggotanya memilih tetap bekerja. “Lebih baik kita onbid, cari nafkah buat keluarga,” ujarnya. Sebagian pengemudi lain memilih jalan tengah: libur setengah hari sebagai bentuk penghormatan terhadap gerakan.
Aksi ini berlangsung di tengah peringatan Hari Perhubungan Nasional, yang seharusnya menjadi momentum refleksi atas kontribusi sektor transportasi terhadap pembangunan. Namun bagi para pengemudi ojol, hari ini justru menjadi simbol perlawanan terhadap ketimpangan regulasi dan ketidakadilan sistemik.











Tinggalkan Balasan