Bacatrend, Surabaya — Gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Jawa Timur kini memasuki babak baru. Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkap adanya indikasi kuat bahwa aksi kekerasan yang merusak fasilitas publik dan melukai ratusan orang bukan semata hasil spontanitas massa, melainkan dipicu oleh infiltrasi kelompok berpaham anarkisme.

Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto menyampaikan bahwa aparat telah menangkap puluhan pelaku baru, sebagian besar terlibat dalam penyerangan terhadap petugas dan perusakan properti negara. “Kami menemukan pola pergerakan yang tidak acak. Ada jejak ideologi, ada mobilisasi, dan ada upaya sistematis untuk menciptakan kekacauan,” ujarnya dalam konferensi pers.

Dari hasil operasi di Sidoarjo dan Malang, polisi mengamankan lebih dari 100 orang. Sebagian besar pelaku berusia muda, bahkan di bawah umur. Mereka diduga ikut serta tanpa memahami sepenuhnya konsekuensi hukum maupun ideologi yang menyusupi aksi tersebut.

“Banyak dari mereka hanya ikut-ikutan. Kami kembalikan ke orang tua agar ada pembinaan. Tapi bagi pelaku dewasa yang terbukti melakukan tindak pidana, proses hukum tetap berjalan,” tegas Nanang.









Dalam penggeledahan, aparat menemukan buku-buku bertema anarkisme, batu, jaket bertudung, serta tameng polisi yang dirampas massa. Salah satu tersangka bahkan terekam dalam video saat menyiramkan bensin ke arah petugas.

Di Malang, kerusuhan melibatkan pelemparan bom molotov dan perusakan kantor polisi. Polisi menetapkan 18 tersangka dari total 61 orang yang diamankan.

Kapolda menyebut bahwa kerusuhan terjadi hampir serentak di 10 kota, dengan pola yang mirip. Aparat menduga ada aktor intelektual yang merancang dan mendanai aksi tersebut. “Kami sedang mendalami siapa yang mengatur, siapa yang membiayai, dan bagaimana jaringan ini bekerja,” katanya.

Dalam salah satu insiden di Surabaya, mahasiswa dilaporkan tidak bisa pulang karena ditahan oleh kelompok anarko. “Mereka hanya ingin menyampaikan pendapat, tapi dijadikan tameng oleh kelompok yang punya agenda lain,” tambah Nanang.

Polda Jatim menegaskan akan terus menindak tegas pelaku anarkis, namun tetap mengedepankan pendekatan edukatif bagi anak-anak dan remaja yang terlibat. “Kami tidak ingin generasi muda terseret dalam konflik yang tidak mereka pahami. Pengawasan keluarga sangat penting,” ujarnya.

Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung. Polisi berkomitmen mengungkap dalang di balik kerusuhan dan mencegah terulangnya aksi serupa.