Gulai Mentog Prigen, Aroma Lereng Rasa Warisan
Bacatrend, Prigen — Di lereng sejuk Gunung Arjuno, di antara kabut pagi dan gemuruh jeep wisata, ada satu aroma yang tak bisa diabaikan: gurih pedas gulai mentog yang mengepul dari dapur-dapur tradisional. Bukan sembarang gulai—ini adalah sajian warisan, dimasak perlahan dengan tangan-tangan sabar, dan disajikan hangat di tengah udara pegunungan yang menggigit.
Mentog, sejenis itik lokal yang dipelihara secara alami di pekarangan warga, menjadi bintang utama dalam hidangan ini. Dagingnya padat, berserat, dan memiliki aroma khas yang tak bisa ditiru oleh unggas lain. Di tangan para ibu dapur Prigen, mentog berubah menjadi gulai berkuah santan kental, penuh rempah, dan menggoda sejak suapan pertama.
“Kalau gulai biasa itu lembut, gulai mentog itu berkarakter,” ujar Siti, pengelola warung makan di kawasan Jatiarjo. “Dagingnya harus dimasak lama, biar empuk dan bumbunya masuk sampai ke tulang.”
Di Resto Cawang, salah satu tempat makan yang mulai dikenal wisatawan, gulai mentog disajikan bersama nasi hangat, sambal terasi, dan lalapan segar. Harganya tak membuat kantong jebol—sekitar Rp35.000 per porsi—namun rasanya membuat banyak pengunjung kembali lagi, bahkan membawa pulang dalam kemasan.
Gulai mentog bukan hanya soal rasa, tapi juga soal cerita. Bumbu-bumbu seperti kunyit, ketumbar, jahe, lengkuas, dan cabai merah ditumbuk halus, lalu ditumis hingga harum sebelum disiram santan kental. Prosesnya bisa memakan waktu berjam-jam, dan hasilnya adalah kuah yang tidak hanya gurih, tapi juga menyimpan jejak sejarah kuliner Jawa Timur.
“Mentog itu dulu makanan hajatan, bukan makanan harian,” kata Pak Mulyono, sesepuh desa yang masih memelihara mentog di pekarangannya. “Kalau ada tamu penting, baru disembelih. Jadi gulai mentog itu simbol penghormatan.”
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner modern, gulai mentog tetap bertahan sebagai sajian yang jujur dan membumi. Ia tidak menjanjikan kemewahan, tapi menawarkan kehangatan. Ia tidak viral di media sosial, tapi hidup di dapur-dapur warga yang masih percaya bahwa rasa terbaik datang dari kesabaran.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Prigen, mencicipi gulai mentog bukan hanya soal kuliner, tapi juga pengalaman budaya. Di setiap suapan, ada rasa tanah, tradisi, dan tangan-tangan yang meraciknya dengan cinta.
Di Prigen, gulai mentog bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan. Ia adalah pelukan hangat di tengah dinginnya lereng Arjuno. Dan bagi siapa pun yang mencicipinya, ia adalah kenangan yang akan terus mengepul, bahkan setelah kabut pagi menghilang.











Tinggalkan Balasan