Ilabulo, Kuliner Tradisional Gorontalo yang Menyatukan Rasa dan Nilai
Bacatrend, Gorontalo – Ilabulo bukan sekadar makanan khas Gorontalo—ia adalah simbol persatuan, warisan budaya, dan ekspresi kuliner yang telah hidup sejak abad ke-15. Dalam bahasa Gorontalo, “Ilabulo” berarti totombowata, atau “bersatu padu.” Filosofi ini tercermin dalam bahan-bahannya yang beragam namun berpadu harmonis: sagu, hati dan ampela ayam, kulit ayam, serta rempah-rempah lokal.
Ilabulo dibuat dari adonan tepung sagu yang dicampur dengan jeroan ayam (hati dan ampela), kulit ayam, dan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, lada, cabai, dan santan. Adonan ini kemudian dibungkus daun pisang dan dimasak dengan dua metode: dikukus untuk tekstur lembut, atau dibakar dengan arang tempurung kelapa untuk aroma smoky yang khas.
Beberapa variasi modern menambahkan telur puyuh, keju, atau bahkan mengganti jeroan dengan ikan atau nangka untuk versi yang lebih sehat dan inovatif.
Ilabulo memiliki peran penting dalam tradisi Gorontalo. Menurut maestro budaya Abdul Wahab Lihu, tidak sah sebuah upacara adat tanpa kehadiran Ilabulo dan Tili’aya. Makanan ini dulunya disajikan dalam perundingan damai antar raja sebagai lambang harmoni dan kesepakatan.
Pada tahun 2016, Ilabulo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, memperkuat posisinya sebagai kuliner yang tak hanya lezat, tetapi juga bermakna.
Ilabulo dapat bertahan hingga tiga hari jika disimpan di lemari pendingin, menjadikannya oleh-oleh favorit dari Gorontalo. Bentuknya yang menyerupai pepes sering membuat orang luar Gorontalo keliru, namun rasa dan teksturnya sangat berbeda: kenyal, gurih, dan pedas khas.











Tinggalkan Balasan