Tragedi Mantan Istri Menikah, Celurit pun Ikut Bicara
Bacatrend, Pacitan — Malam itu, langit Dusun Drono tampak biasa. Angin menyapu pelan pepohonan kelapa, dan suara jangkrik bersahutan di kejauhan. Namun di balik ketenangan itu, sebuah tragedi mengoyak jantung Desa Temon, Kecamatan Arjosari.
Seorang pria berinisial AS, warga Desa Kayen, melakukan penyerangan brutal terhadap mantan mertuanya dan empat anggota keluarga lainnya.
Korban tewas adalah mantan mertua AS, sementara empat lainnya—termasuk mantan istrinya, M—mengalami luka serius. Mereka kini dirawat intensif di rumah sakit Pacitan.
Motif penyerangan diduga berasal dari luka hati yang belum sembuh. Empat bulan setelah perceraian, M dikabarkan akan menikah lagi. Kabar itu, menurut warga, membuat AS gelisah dan marah.
“Dia sering terlihat murung sejak pisah. Tapi kami tak menyangka akan sekejam ini,” ujar Sumarni, tetangga korban.
Menurut saksi mata, AS datang malam itu dengan membawa senjata tajam. Ia masuk ke rumah keluarga M tanpa banyak bicara, lalu menyerang secara membabi buta.
“Kami dengar teriakan, lalu lari ke sana. Tapi semua sudah berdarah,” kata Rudi, warga yang pertama tiba di lokasi.
Polisi menangkap AS beberapa jam kemudian di wilayah perbatasan Kecamatan Tegalombo. Ia sempat bersembunyi di kebun warga sebelum akhirnya menyerahkan diri.
Kapolres Pacitan, AKBP Deni Setiawan, menyatakan bahwa pelaku akan dikenakan pasal pembunuhan berencana dan penganiayaan berat.
“Kami mendalami latar belakang psikologis pelaku. Ini bukan sekadar konflik rumah tangga,” ujarnya.
Tragedi ini mengguncang warga Pacitan, terutama karena korban adalah keluarga yang dikenal ramah dan sederhana.
“Mereka orang baik. Tak pernah ada masalah dengan tetangga,” kata Lilik, warga Dusun Drono.
Di tengah duka, muncul keprihatinan tentang minimnya pendampingan psikologis pasca perceraian, terutama di wilayah pedesaan. Banyak konflik rumah tangga yang berakhir tanpa mediasi, menyisakan bara yang bisa meledak kapan saja.
“Perceraian bukan akhir dari segalanya. Tapi kalau tak ada pendampingan, bisa jadi awal tragedi,” ujar Nurul, aktivis perempuan di Pacitan.











Tinggalkan Balasan