Sosok Letkol Untung Syamsuri dan Kudeta yang Mengubah Sejarah Indonesia
Bacatrend, Jakarta – Letkol Untung Syamsuri atau dalam ejaan lama Oentoeng bin Sjamsoeri, lahir pada 3 Juli 1926 di Dusun Kedung Bajul, Desa Bojongsari, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Nama kecilnya adalah Kusmindar atau Kusman. Ia menghabiskan masa kecil di Kebumen sebelum pindah ke Solo untuk melanjutkan pendidikan dan kemudian meniti karier militer.
Karier militernya dimulai sejak masa pendudukan Jepang, ketika ia bergabung dengan Heiho—pasukan pembantu Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan aktif dalam berbagai operasi militer, termasuk penumpasan PKI Madiun (1948), PRRI/Permesta (1958), dan Operasi Trikora (1962) di Papua Barat. Atas jasanya dalam Trikora, ia dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Soekarno.
Letkol Untung dikenal sebagai perwira yang disiplin dan memiliki reputasi militer yang kuat. Ia menjabat sebagai Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa—pasukan pengawal Presiden Soekarno. Posisi strategis ini membuatnya memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan dan dinamika politik nasional.
Peran Sentral dalam G30S/PKI
Pada malam 30 September 1965, Letkol Untung memimpin langsung operasi militer yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S). Operasi ini melibatkan penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi TNI AD yang dituduh tergabung dalam “Dewan Jenderal”—sebuah kelompok yang disebut-sebut merencanakan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Namun, keberadaan Dewan Jenderal tidak pernah terbukti secara hukum.
Pasukan Cakrabirawa di bawah komando Letkol Untung menculik para jenderal dari kediaman masing-masing dan membawa mereka ke Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di sana, mereka dibunuh dan jasadnya dimasukkan ke dalam sumur tua. Peristiwa ini memicu krisis politik besar yang berujung pada kejatuhan Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai pemimpin Orde Baru.
Letkol Untung menunjuk Lettu Dul Arief sebagai pelaksana teknis penculikan. Ia juga berkoordinasi dengan tokoh-tokoh lain seperti Mayor Sujono dan Letnan Ngadimo Hasuwigno. Setelah operasi gagal dan situasi politik berubah, Letkol Untung melarikan diri ke Brebes, namun akhirnya ditangkap.
Penangkapan dan Eksekusi
Letkol Untung diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan dinyatakan bersalah atas keterlibatannya dalam kudeta militer. Ia dieksekusi mati pada tahun 1967 di kawasan Lembang, Bandung Barat, bersama dua perwira lainnya: Mayor Sujono dan Letnan Ngadimo.
Menurut laporan koran Algemeen Dagblad (29 September 1967), eksekusi dilakukan saat fajar oleh tiga regu tembak. Permohonan grasi yang diajukan kepada pemerintah ditolak. Foto-foto detik-detik eksekusi Letkol Untung sempat beredar dan menjadi arsip sejarah yang langka.
Warisan Kontroversial
Letkol Untung tetap menjadi sosok kontroversial dalam sejarah Indonesia. Di satu sisi, ia adalah perwira militer yang pernah berjasa dalam operasi besar negara. Di sisi lain, ia menjadi tokoh utama dalam peristiwa berdarah yang menewaskan para Pahlawan Revolusi dan mengubah arah politik Indonesia secara drastis.
Letkol Untung adalah simbol dari kompleksitas hubungan militer dan politik di era Soekarno. Ia bukan sekadar pelaku, tapi juga produk dari ketegangan ideologis yang melanda Indonesia saat itu. *Diolah dari berbagai sumber











Tinggalkan Balasan