Bacatrend, SURABAYA — Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan keunggulan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Benowo sebagai model pengolahan sampah modern yang efisien dan ramah lingkungan. Hal ini disampaikan saat menerima kunjungan Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, yang datang khusus untuk meninjau langsung sistem pengolahan sampah menjadi energi listrik di Surabaya.

Menurut Eri, PSEL Benowo telah menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi gasifikasi. “Surabaya dijadikan kota percontohan karena berhasil mengolah sampah menjadi listrik dengan efisiensi tinggi dan dampak lingkungan yang minim,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa teknologi gasifikasi dipilih karena lebih ramah lingkungan dibandingkan insinerator, yang tidak direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. “Dulu kami punya dua sistem, insinerator dan gasifikasi. Sekarang kami fokus ke gasifikasi karena emisi yang dihasilkan jauh lebih aman,” jelas Eri.

Selain teknologi, skema pembiayaan tipping fee di Surabaya juga dinilai lebih hemat. “Di banyak daerah, tipping fee bisa mencapai Rp500–600 ribu per ton. Di Surabaya hanya Rp290 ribu. Ini menunjukkan efisiensi yang nyata,” tambahnya.









Eri juga memaparkan bahwa PSEL Benowo dibangun dengan dukungan APBD, karena Surabaya memiliki kekuatan fiskal yang tinggi. Meski berharap mendapat pembiayaan dari program nasional Danantara, pemerintah pusat meminta Surabaya tetap mandiri agar bisa menjadi contoh bagi daerah lain.

“Surabaya diminta terus berinovasi dan membantu daerah lain. Karena fiskal kita kuat, kita tidak di-cover oleh Danantara, tapi tetap jadi model nasional,” kata Eri yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus APEKSI.

Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengapresiasi sistem pengolahan sampah di Surabaya. Ia menyebut teknologi dan efisiensi biaya yang diterapkan di PSEL Benowo layak untuk direplikasi di daerah lain. “Kami belajar langsung dari Surabaya. Ini adalah contoh pengelolaan sampah yang modern, hemat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kunjungan ini merupakan bagian dari tindak lanjut pertemuan kepala daerah di Danantara, yang membahas strategi nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik. Pemerintah daerah yang menghasilkan sampah di atas 1.000 ton per hari dan memiliki lahan minimal 5 hektar akan mendapat dukungan pembiayaan dari Danantara sesuai Perpres yang sedang disiapkan.