Bacatrend, Jakarta — Rencana kehadiran delegasi senam Israel dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta memicu kontroversi nasional. Meski Federasi Senam Israel telah mendaftarkan 10 atlet dan membayar biaya visa, hingga kini belum ada kepastian dari pemerintah Indonesia terkait izin masuk.

Kejuaraan dunia yang dijadwalkan berlangsung pada 19–25 Oktober mendatang akan diikuti oleh sekitar 500 atlet dari 78 negara. Israel mengirimkan enam atlet putra dan empat atlet putri, termasuk juara Olimpiade Paris 2024, Artyom Dolgopyat.

Namun, proses administrasi visa mereka belum mendapat lampu hijau dari Direktorat Imigrasi. Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa keputusan soal visa bukan kewenangan Kemenlu, melainkan otoritas imigrasi.

“Kalau misalnya menerima atau tidak itu akan ditentukan apakah mereka diberikan visa atau tidak. Dan itu bukan oleh Kementerian Luar Negeri,” ujar Sugiono di Jakarta.









Sikap pemerintah yang belum tegas membuka ruang bagi penolakan dari sejumlah tokoh dan organisasi masyarakat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan tidak akan mengizinkan atlet Israel bertanding di wilayahnya, dengan alasan kemanusiaan dan solidaritas terhadap Palestina.

Penolakan juga datang dari PP Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, menyebut kehadiran atlet Israel sebagai bentuk pembiaran terhadap penjajahan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Sementara itu, Federasi Senam Israel berharap olahraga tetap menjadi ruang netral yang tidak dipengaruhi konflik politik. Mereka menyatakan telah berkomunikasi dengan penyelenggara dan berharap keamanan delegasi dijamin selama kompetisi.

Persatuan Senam Indonesia (Persani) sebagai penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi terkait status delegasi Israel. Keputusan akhir soal visa diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan.

Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 menjadi ujian diplomatik bagi Indonesia, yang selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, namun juga diharapkan menjunjung prinsip inklusivitas dalam olahraga internasional.