Bacatrend, Bali – Peristiwa memilukan terjadi di sebuah rumah indekos di Jalan Subur, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat, Bali. Seorang pria bernama Sunardi (48), asal Magetan, Jawa Timur, membunuh istrinya, Evi Dwi Yulianawati (50), yang telah lama menderita stroke. Aksi tersebut dilakukan dengan cara membekap korban menggunakan bantal saat sedang tertidur.

Menurut keterangan Kasi Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, pelaku mengaku lelah dan frustrasi setelah bertahun-tahun merawat istrinya yang tidak kunjung sembuh. Awalnya, Sunardi berniat mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, ia mengurungkan niat tersebut karena khawatir tidak ada yang akan merawat istrinya jika ia meninggal lebih dulu. Dalam kondisi mental yang tertekan, ia memutuskan untuk membunuh sang istri terlebih dahulu.

Setelah memastikan korban meninggal, Sunardi mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai dan menyayat pergelangan tangan kirinya menggunakan pisau.

“Namun, upaya tersebut gagal. Ia kemudian menyerahkan diri kepada pihak kepolisian dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya.









Kasus ini memicu keprihatinan publik dan menjadi sorotan media nasional. Banyak pihak menyoroti pentingnya dukungan psikologis dan sosial bagi para caregiver atau pendamping pasien dengan penyakit kronis. Dalam beberapa laporan, Sunardi disebut sebagai pedagang pecel yang hidup sederhana dan merawat istrinya seorang diri di kamar indekos sempit.

Pakar psikologi menyebut bahwa tekanan mental yang dialami oleh caregiver dapat menjadi pemicu tindakan ekstrem jika tidak ditangani dengan baik. Kondisi seperti depresi, kelelahan emosional, dan isolasi sosial sering kali tidak terlihat secara kasat mata, namun berdampak besar terhadap stabilitas mental seseorang.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih terbuka dalam mencari bantuan, baik medis maupun psikologis, ketika menghadapi tekanan berat dalam merawat anggota keluarga yang sakit. Pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat layanan pendampingan dan konseling bagi keluarga pasien dengan penyakit kronis.

Kasus Sunardi menjadi pengingat bahwa keputusasaan bisa berujung pada tragedi jika tidak ada ruang untuk berbagi dan mendapatkan dukungan. Kini, proses hukum terhadap Sunardi tengah berjalan, dan publik menantikan langkah-langkah preventif yang lebih kuat agar tragedi serupa tidak terulang.