Di Balik Reruntuhan Al-Khoziny: Kisah Haru Tim Rescue Surabaya Berjuang Melawan Waktu dan Lelah
Bacatrend, Surabaya — Di antara tumpukan beton dan debu yang masih mengepul, suara lirih seorang santri menjadi titik awal perjuangan tanpa henti Tim Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya. Para petugas bekerja di bawah tekanan fisik dan mental demi satu misi: menyelamatkan nyawa.
Tiga anggota DPKP — Elvanio Santoso, Abdul Aziz, dan Galang Ferbi — masih mengingat jelas detik-detik genting itu. Mereka menjadi bagian dari tim yang mengevakuasi dua santri Pondok Pesantren Al-Khoziny, Yusuf dan Haikal, yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Suara dari Dalam Reruntuhan
Elvanio, atau akrab disapa Neo, mengisahkan momen pertama kali mendengar suara Yusuf sekitar pukul 22.00 WIB di hari kejadian.
“Kami datang di hari pertama. Terdengar suara Yusuf bilang, ‘Pak, ada lubang. Tangan saya kelihatan tidak,’” kenangnya.
Tim segera melacak sumber suara itu. Yusuf beruntung tidak tergencet beton, namun akses menuju tempatnya hanya selebar botol air mineral — cukup untuk menyuplai minum dan biskuit.
Dengan berkoordinasi bersama Basarnas, tim memutuskan memperbesar lubang. Prosesnya berlangsung hingga empat hingga lima jam, tanpa jeda. Neo bekerja tanpa henti dari pukul 22.00 hingga lewat pukul 02.00 dini hari.
“Saya sudah kehabisan tenaga. Akhirnya tugas memotong rangka besi saya serahkan ke Abdul Aziz. Alhamdulillah, Yusuf akhirnya berhasil dikeluarkan dengan selamat,” tutur Neo.
Bagi Neo, pengalaman itu menjadi peristiwa luar biasa dalam enam tahun pengabdiannya di DPKP.
“Ini kebanggaan tersendiri. Bisa ikut langsung menyelamatkan nyawa di tengah reruntuhan adalah momen yang tidak akan terlupakan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Lelah, Debu, dan Harapan
Sementara itu, pada hari kedua dan ketiga, giliran Abdul Aziz dan Galang Ferbi yang turun tangan. Kali ini, sasaran evakuasi adalah Haikal, santri yang terjepit di bawah puing beton.
Tim harus menggali lubang sedalam lima meter, di bawah kondisi medan yang rapuh dan penuh risiko. Di sela-sela kerja keras itu, mereka juga mendengar suara minta tolong dari sekitar lima korban lain di sisi yang sulit dijangkau.
“Tekanan mentalnya luar biasa. Tapi kami tetap menenangkan para santri, meyakinkan mereka bahwa pertolongan sedang datang,” kata Aziz.
Situasi semakin genting ketika Haikal mulai kehabisan napas.
“Dia sempat berteriak, ‘Sudah jangan mainan itu, Haikal tidak bisa bernapas!’” kenang Aziz.
Tim segera berkoordinasi, memberi suplai oksigen dan air minum. Setelah Haikal kembali tenang, proses evakuasi berlanjut hingga akhirnya ia berhasil dikeluarkan dari reruntuhan beton.
Apresiasi dari Kota Pahlawan
Kisah heroik para personel DPKP Surabaya ini sampai ke telinga Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Dalam kunjungannya ke kantor DPKP, Eri menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya atas dedikasi tim yang bertaruh nyawa demi kemanusiaan.
“Saya bangga betul, karena tim penyelamat Kota Surabaya berbuat kebaikan tanpa pamrih untuk menolong sesama,” ujar Eri dengan nada haru.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemkot Surabaya berencana memberikan penghargaan khusus kepada para personel DPKP pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November mendatang.
“Kami juga akan memperbaiki dan melengkapi alat kebugaran di kantor DPKP, karena penyelamat harus selalu sehat,” pungkasnya.
Misi Kemanusiaan yang Tak Akan Terlupakan
Di balik sorotan lampu dan suara mesin pemotong baja malam itu, ada kisah manusia yang berjuang melampaui batas dirinya. Neo, Aziz, dan Galang tak sekadar menjalankan tugas — mereka mengemban panggilan nurani.
Reruntuhan Al-Khoziny menjadi saksi bagaimana keteguhan, empati, dan kerja sama bisa menyalakan harapan di tengah gelapnya bencana.
Sebuah bukti bahwa di Kota Pahlawan, semangat kepahlawanan itu masih hidup — menyala di antara puing-puing, bersama doa dan peluh para penyelamat.
Apakah kamu ingin versi berita ini dibuat dalam format feature majalah (lebih naratif dan emosional) atau feature media online (lebih ringkas dengan kutipan dominan)?











Tinggalkan Balasan