Bacatrend, Tegal — Di lereng Gunung Slamet yang sejuk dan berkabut, suara gemuruh air mengalun dari ketinggian 60 meter. Curug Cantel, air terjun yang tersembunyi di Desa Sigedong, Bumijawa, bukan sekadar destinasi alam. Ia adalah tempat di mana mitos, keindahan, dan harapan bertemu dalam satu aliran.

Setiap akhir pekan, puluhan pengunjung menapaki jalur setapak sejauh 15 menit dari pintu masuk. Mereka datang membawa bekal, kamera, dan sebagian membawa harapan: konon, membasuh muka di bawah pancuran Curug Cantel bisa mempercepat jodoh. “Saya ke sini bukan cuma karena airnya jernih, tapi karena penasaran sama mitosnya,” ujar Rina (27), pengunjung asal Slawi.

🌿 Di Balik Nama “Cantel”
Nama “Cantel” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menggantung.” Air terjun ini memang tampak menggantung di antara tebing hijau, seolah enggan menyentuh tanah. Di musim hujan, debit air meningkat, menciptakan kabut alami yang menambah kesan magis.

Namun, keindahan ini tak datang tanpa tantangan. Jalur menuju curug cukup licin saat hujan, dan fasilitas masih sederhana. Hanya ada beberapa warung, toilet, dan gazebo bambu. Meski begitu, suasana alami dan udara pegunungan membuat banyak pengunjung rela kembali.









📸 Spot Foto dan Relaksasi
Bagi pemburu konten media sosial, Curug Cantel menawarkan latar dramatis: batuan besar, jembatan bambu, dan aliran air yang deras. Sementara bagi pencari ketenangan, suara air dan semilir angin menjadi terapi alami.

“Kalau pagi, kabutnya masih tebal. Rasanya kayak di negeri dongeng,” kata Dedi (34), fotografer lokal yang rutin memotret lanskap Tegal.

🧭 Tiket dan Akses
Dengan tiket masuk Rp5.000–Rp10.000, Curug Cantel menjadi salah satu wisata alam paling terjangkau di Tegal. Lokasinya bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari pusat kota, melewati jalan berkelok dan kebun teh.