Gina dan Luka yang Tak Terlihat, Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Tempat Aman ANak
Bacatrend, Lampung – Di sebuah rumah sederhana di Bandar Lampung, Gina Dwi Sartika duduk termenung. Usianya 17 tahun, namun ia tak lagi duduk di bangku sekolah. Bukan karena malas, bukan pula karena tak mampu secara akademik. Ia berhenti karena luka yang tak terlihat—perundungan yang perlahan mengikis semangat belajarnya.
Anak Pemulung yang Jadi Sasaran
Gina adalah anak dari seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai pemulung. Di lingkungan sekolah, latar belakang ini menjadi bahan ejekan. “Anak pemulung, bau sampah,” begitu kata-kata yang kerap ia dengar dari teman-temannya. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya candaan. Tapi bagi Gina, itu adalah luka yang terus menganga.
“Gina sering pulang menangis. Dia bilang malu, takut ke sekolah,” ujar Misna Megawati, ibunya, dengan suara bergetar. Ia tak menyangka, profesinya yang halal justru menjadi alasan anaknya dijauhi.
Kisah Gina mencuat ke publik setelah video dirinya menangis viral di media sosial. Dalam video itu, ia mengaku dikeluarkan dari SMPN 13 Bandar Lampung karena sering dibully. Namun, pihak sekolah membantah. Mereka menyatakan Gina berhenti atas keinginannya sendiri setelah bibinya—yang selama ini mengasuhnya—meninggal dunia.
Namun pernyataan itu tak sejalan dengan pengakuan Gina dan ibunya. Mereka menyebut bahwa pihak sekolah menyarankan Gina untuk tidak kembali, dengan alasan agar murid lain tidak bubar.
Media sosial meledak. Warganet mengecam tindakan sekolah dan menuntut keadilan bagi Gina. Banyak yang menyuarakan keprihatinan atas sistem pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman, justru menjadi tempat subur bagi diskriminasi sosial.
“Ini bukan sekadar soal bullying. Ini tentang bagaimana sistem pendidikan kita gagal melindungi yang paling rentan,” tulis seorang pengguna Twitter.
Luka yang Lebih Dalam dari Sekadar Kata
Psikolog anak menyebut bahwa perundungan berbasis latar belakang sosial bisa berdampak jangka panjang. Anak bisa kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari lingkungan, bahkan mengalami trauma psikologis.
“Ketika sekolah tidak menjadi tempat yang aman, anak-anak kehilangan harapan. Mereka merasa tidak punya tempat untuk tumbuh,” celetuk warganet.
Setelah kisahnya viral, berbagai pihak mulai menawarkan bantuan. Beberapa lembaga pendidikan dan komunitas sosial menyatakan siap membantu Gina melanjutkan sekolah. Namun, pertanyaannya lebih besar dari sekadar satu anak: bagaimana sistem pendidikan kita bisa menjamin bahwa tak ada Gina lain yang mengalami hal serupa?











Tinggalkan Balasan