Abu Nawas Menjual Matahari
CeritaNgeTrend – Suatu hari, kota Baghdad dilanda musim panas yang luar biasa terik. Matahari bersinar tanpa ampun, membuat rakyat mengeluh kepanasan. Raja Harun Al-Rasyid pun ikut gerah dan memanggil penasihat-penasihatnya untuk mencari solusi. Namun tak satu pun mampu meredakan panas—kecuali satu orang: Abu Nawas.
“Abu Nawas,” titah sang Raja, “kau selalu punya akal. Bisakah kau menyingkirkan matahari ini barang sehari saja?”
Abu Nawas tersenyum, “Hamba bisa lebih dari itu, Tuanku. Hamba akan menjual matahari!”
“Menjual matahari?” tanya sang Raja dengan dahi berkerut. “Siapa yang mau membeli matahari?”
“Orang-orang dari negeri dingin, Tuanku. Mereka pasti ingin sedikit kehangatan.”
Raja tertawa geli, “Baiklah, kalau kau berhasil menjual matahari, aku akan memberimu seratus keping emas. Tapi kalau gagal, kau akan dihukum!”
Abu Nawas pun pergi ke pasar, membawa papan bertuliskan:
“DIJUAL: MATAHARI BAGHDAD – Hangat, Terang, dan Tahan Lama. Cocok untuk Negeri Bersalju.”
Orang-orang tertawa melihatnya, mengira Abu Nawas sudah gila. Tapi tak disangka, seorang pedagang dari negeri jauh datang menghampiri.
“Aku dari negeri utara yang selalu bersalju. Jika kau bisa kirimkan matahari ini ke negeriku, aku akan bayar mahal!” katanya.
Abu Nawas mengangguk, “Tentu, tapi kau harus bayar dulu. Pengiriman cahaya matahari akan dilakukan lewat cermin-cermin besar yang akan kupasang di perbatasan negerimu.”
Sang pedagang, yang juga ingin menghibur dirinya, membayar sejumlah uang sebagai tanda jadi. Abu Nawas pun kembali ke istana.
“Tuanku,” katanya sambil menyerahkan uang itu, “ini hasil penjualan matahari. Hamba sudah menjualnya ke negeri bersalju.”
Raja terbahak, “Kau memang tak waras, tapi cerdik! Baiklah, ini seratus keping emas untukmu. Tapi jangan coba-coba jual bulan, ya!”
Abu Nawas membungkuk, “Tenang, Tuanku. Bulan terlalu murah untuk dijual. Hamba sedang menyiapkan paket bundling: bulan dan bintang sekaligus!”











Tinggalkan Balasan