Ketika Indomaret dan Alfamart Masuk Kampung, Ekonomi Rakyat Kecil Kian Terjepit (1)
Bacatrend, Jakarta — Pernyataan Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) soal ekspansi ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart kembali menggugah perhatian publik. Ia menilai kehadiran dua jaringan waralaba tersebut hingga ke pelosok kampung telah menggerus ekonomi rakyat kecil.
“Kita tidak anti modernisasi. Tapi ketika Indomaret dan Alfamart masuk ke kampung-kampung, itu membunuh ekonomi rakyat kecil. Pemerintah harus hadir menata ulang,” kata kata Cak Imin saat sambutan dalam acara ‘1 Tahun Pemberdayaan Masyarakat’, di Menara Danareksa, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2025) lalu.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah minimarket di Indonesia mencapai lebih dari 85.000 gerai pada 2025, meningkat hampir 20 persen dalam lima tahun terakhir.
Sebaliknya, jumlah warung tradisional terus menurun, terutama di daerah urban dan semiurban. Penelitian Lembaga Riset SMERU (2024) menyebut lebih dari 40 persen toko kelontong di sekitar gerai ritel modern mengalami penurunan penjualan lebih dari separuh.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen, di mana kenyamanan dan promosi digital dari ritel modern membuat warung rakyat semakin kehilangan daya saing.
Hasil penelusuran di sejumlah daerah menunjukkan ritel modern kini menjamur di kawasan pemukiman padat. Di pinggiran Surabaya, Bekasi, hingga Makassar, gerai Indomaret dan Alfamart berdiri berdampingan dengan warung sembako warga.
Beberapa di antaranya bahkan hanya berjarak 50–100 meter dari toko kelontong setempat, melanggar aturan zonasi minimal 500 meter yang diatur dalam Permendag Nomor 70 Tahun 2013.
Pedagang tradisional mengaku omzet menurun drastis sejak minimarket beroperasi.
“Dulu bisa jual beras 20 karung seminggu, sekarang tinggal separuh. Orang kampung sudah lebih suka belanja ke Indomaret,” keluh Sulastri (45), pemilik warung di kawasan Waru, Sidoarjo.











Tinggalkan Balasan