Abu Nawas dan Pajak yang Aneh
CeritaNgeTrend – Pada suatu masa di Baghdad, Sultan Harun Al-Rasyid merasa kas negara mulai menipis. Ia pun mengeluarkan dekrit baru: Setiap warga yang memiliki pintu harus membayar pajak pintu. Alasannya? “Pintu adalah simbol kemakmuran. Semakin banyak pintu, semakin kaya pemiliknya,” kata sang Sultan.
Rakyat pun gempar. Rumah-rumah sederhana yang hanya memiliki satu pintu pun terkena pajak. Bahkan gubuk tua yang pintunya sudah miring tetap dikenai pungutan. Keluhan rakyat pun sampai ke telinga Abu Nawas.
“Ini pajak yang aneh,” gumam Abu Nawas. Ia pun menyusun siasat.
Sandiwara Abu Nawas
Abu Nawas mendatangi istana dengan membawa sebuah peti besar. Ia meminta izin kepada Sultan untuk mempersembahkan hadiah. Sultan, penasaran, membuka peti itu—namun isinya kosong.
“Mana hadiahnya?” tanya Sultan.
“Di dalam, Tuanku. Tapi hanya bisa dilihat oleh orang yang adil dan bijaksana,” jawab Abu Nawas.
Sultan terdiam. Para menteri pun ikut mengintip, tapi tak satu pun berani mengaku bahwa peti itu kosong. Mereka memuji hadiah itu sebagai ‘simbol kebijaksanaan’.
Abu Nawas pun berkata, “Jika Tuanku bisa melihat isi peti ini, maka Tuanku pasti bisa melihat bahwa pajak pintu adalah ketidakadilan yang nyata.”
Sultan tersentak. Ia sadar telah membuat kebijakan yang menindas rakyat. Pajak pintu pun dibatalkan.











Tinggalkan Balasan