Bacatrend, Surabaya — Pemerintah Kota Surabaya menerima kunjungan resmi dari delegasi Pemerintah Kota Mangaung, Afrika Selatan, dalam rangka mempererat hubungan kerja sama antarkota. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Gregory Nthatisi disambut oleh Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, di Ruang Sidang Sekda.

Kunjungan ini merupakan hasil inisiasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Cape Town dan menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi lintas negara. Agenda utama pertemuan adalah penandatanganan Minutes of Meeting (MoM) yang mencakup enam sektor prioritas: ekonomi, perdagangan dan investasi, pengelolaan sampah, pendidikan, kebudayaan dan kepemudaan, pengembangan infrastruktur, teknologi informasi, serta energi berkelanjutan.

“Fokus utama dari kerja sama ini adalah menciptakan kota yang berkelanjutan, bersih, dan ramah lingkungan. Pemerintah Kota Mangaung secara khusus ingin mempelajari sistem pengelolaan sampah di Surabaya yang dinilai berhasil,” ujar Kepala Bapedalitbang Surabaya, Irvan Wahyudrajat.

Irvan menjelaskan bahwa Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah setiap hari. Untuk mengelola volume tersebut, kota ini telah menerapkan pendekatan terpadu, termasuk teknologi waste-to-energy yang mampu menghasilkan sekitar 11 megawatt listrik. Selain itu, sekitar 200 ton sampah per hari dikelola oleh masyarakat melalui bank sampah di tingkat komunitas.









Program pengolahan berbasis warga ini memungkinkan pemilahan sampah bernilai ekonomis, sementara limbah organik diolah menjadi kompos atau digunakan untuk budidaya maggot, yang kemudian dimanfaatkan oleh peternak lokal. Untuk sisa 600 ton yang belum tertangani, Pemkot Surabaya tengah menyiapkan pembangunan empat fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) yang ditargetkan rampung dalam dua tahun mendatang.

Wali Kota Mangaung, Gregory Nthatisi, menyampaikan alasan pihaknya memilih Surabaya sebagai mitra strategis. “Kami memilih Indonesia karena Afrika Selatan memiliki sejarah kolonisasi yang sama. Kami melihat bagaimana Surabaya memiliki struktur kota yang sangat baik dan terorganisir,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Mangaung, yang mencakup Bloemfontein sebagai ibu kota yudisial Afrika Selatan dan berpenduduk sekitar 850.000 jiwa, merupakan kota multikultural yang terinspirasi oleh berbagai praktik pembangunan di Surabaya. “Hal ini memotivasi Mangaung untuk mencari mitra yang memiliki latar belakang yang sama demi menarik investasi,” tambahnya.

Selama kunjungan yang berlangsung hingga 13 November, delegasi dijadwalkan meninjau sejumlah fasilitas publik, seperti Taman Harmoni Keputih, Pusat Daur Ulang Jambangan, Tempat Pembuangan Akhir Benowo, dan Rumah Batik Suramadu.

“Kami berharap melalui kunjungan ini, terjalin kerja sama yang erat dan saling menguntungkan, khususnya dalam menciptakan praktik terbaik untuk pembangunan kota yang berkelanjutan,” pungkas Wali Kota Gregory.