OpiniNgeTrend – Temuan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur bahwa 15 siswa SMP di Surabaya positif menggunakan narkoba bukan sekadar angka. Ini adalah alarm keras yang mengguncang kesadaran kita: anak-anak usia belia, yang seharusnya sibuk belajar dan bermain, justru terjerumus dalam lingkaran gelap narkotika.

Usia SMP adalah masa transisi yang rentan—anak-anak sedang mencari jati diri, mudah dipengaruhi, dan belum memiliki daya tahan sosial yang kuat. Ketika lingkungan sekitar mereka dipenuhi ancaman, seperti yang terjadi di kawasan Jalan Kunti, Semampir, maka risiko menjadi korban bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan.

Jalan Kunti bukan nama baru dalam peta peredaran narkoba. Wilayah ini telah lama dikenal sebagai “kampung narkoba”—sebuah label kelam yang mencerminkan betapa dalamnya akar persoalan. Bedeng-bedeng yang dijadikan tempat transaksi sabu berdiri tak jauh dari sekolah. Anak-anak melintas setiap hari, menyaksikan aktivitas ilegal yang normalisasi. Dalam kondisi seperti ini, siapa yang bisa menjamin mereka tidak terpapar?

Namun, menyalahkan anak-anak semata adalah bentuk pengabaian tanggung jawab kolektif. Mereka adalah korban. Korban dari lingkungan yang gagal dijaga, dari pengawasan yang longgar, dan dari sistem sosial yang membiarkan kampung narkoba tumbuh di tengah kota.









Peran orangtua menjadi garda terdepan. Pendidikan karakter dan pengawasan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada guru. Orangtua harus hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan moral. Guru pun perlu didukung dengan sistem yang memungkinkan mereka mendeteksi dan menangani gejala penyimpangan sejak dini.

Aparat dan pemerintah daerah tidak boleh hanya reaktif. Pos terpadu yang direncanakan Pemkot Surabaya adalah langkah awal yang patut diapresiasi, tetapi harus dibarengi dengan komitmen jangka panjang. Operasi rutin, rehabilitasi, dan edukasi harus berjalan beriringan. Jalan Kunti harus direbut kembali dari genggaman jaringan narkoba, dan dikembalikan sebagai ruang aman bagi warga dan pelajar.

Redaksi percaya bahwa kasus ini bukan akhir, melainkan titik balik. Jika 15 siswa SMP bisa terjerat narkoba, maka ribuan lainnya di kota ini juga berisiko. Surabaya harus bergerak cepat, tegas, dan menyeluruh. Karena masa depan anak-anak tidak bisa ditawar.