Bacatrend, Jakarta – Jakarta Utara kembali bergetar, bukan oleh gempa bumi, melainkan oleh deru ekskavator yang melumat habis rumah megah milik Ahmad Sahroni, politikus NasDem yang dikenal sebagai “Crazy Rich Tanjung Priok.” Rumah yang pernah menjadi simbol kejayaan kini rata dengan tanah, seolah menelan seluruh kenangan, luka, dan amarah yang pernah bersemayam di dalamnya.

Agustus 2025 menjadi titik balik ketika massa demonstran yang murka menyerbu DPR RI lalu menjalar ke Tanjung Priok. Rumah Sahroni di Jalan Swasembada Timur XXII jadi korban: perabotan dijarah, dinding dicabik, kaca pecah berhamburan. Alih-alih sekadar memperbaiki, Sahroni memilih jalan ekstrem. November 2025, ia merobohkan seluruh bangunan dengan biaya fantastis, sekitar Rp250 juta. Ekskavator dan dump truck bergantian masuk, mengangkut puing demi puing, seakan menghapus jejak tragedi yang pernah membakar rumah itu.

Rp250 juta bukan sekadar angka. Itu adalah harga sebuah keputusan politikus yang ingin menutup babak lama dengan cara paling dramatis. Di tengah kawasan padat penduduk, rumah yang rata dengan tanah menjadi tontonan publik. Warga sekitar berkerumun, menyaksikan bagaimana uang ratusan juta rupiah mengubah tragedi menjadi panggung rekonstruksi.

Rumah yang dijarah adalah cermin rapuhnya hubungan antara rakyat dan wakilnya. Keputusan merobohkan rumah muncul tak lama setelah Sahroni dijatuhi sanksi nonaktif DPR RI selama empat bulan. Publik pun membaca ini sebagai drama lanjutan dari seorang politikus flamboyan. Di mata warga sekitar, biaya Rp250 juta untuk merobohkan rumah terasa bagai mimpi, sementara banyak keluarga masih berjuang menutup atap bocor rumah mereka.









Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah monumen status, benteng kebanggaan, sekaligus saksi bisu amarah massa. Kini, dengan deru mesin dan debu yang membumbung, rumah Sahroni runtuh bagai istana pasir yang dihantam ombak. Sebuah babak baru sedang ditulis: dari reruntuhan tragedi menuju hunian baru yang digadang lebih megah, lebih kokoh, dan tentu lebih mencolok.

Ahmad Sahroni telah menjadikan rumahnya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan panggung politik dan sosial. Dari penjarahan hingga pembongkaran, kisah ini adalah potret hiperbolis tentang bagaimana sebuah rumah bisa menjadi metafora kekuasaan, kerentanan, dan pencitraan.