Bacatrend, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya memastikan kawasan eks lokalisasi Dolly dan Moroseneng tetap steril dari praktik prostitusi. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penindakan yang dilakukan aparat beberapa waktu lalu bukan terjadi di inti kawasan Dolly, melainkan di rumah kos di sekitarnya.

“Dolly sudah aman, di sana sekarang berkembang usaha produktif seperti sentra sepatu. Kasus yang ditindak kemarin itu adanya di kos-kosan, bukan di kawasan inti,” ujar Eri Cahyadi.

Menurutnya, sebagian besar pelaku yang terjaring razia bukan warga Surabaya. Mereka akan dipulangkan ke daerah asal setelah menjalani pembinaan di shelter milik Pemkot. “Kalau terbukti ber-KTP Surabaya, akan kami bina agar tidak mengulangi. Tapi kalau bukan, akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah asal,” jelasnya.

Untuk mencegah praktik serupa, Pemkot bersama DPRD tengah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) khusus rumah kos. Aturan ini akan melarang kos campur laki-laki dan perempuan di kawasan permukiman. “Kos di permukiman tidak boleh bercampur. Kalau campur, bisa ditiru anak-anak kecil. Jadi kos laki-laki harus khusus laki-laki, perempuan juga harus khusus perempuan,” tegas Eri.









Selain pengawasan, Pemkot juga mengajak warga aktif menjaga lingkungan dengan tidak menyewakan kos kepada orang yang mencurigakan serta segera melaporkan aktivitas yang berpotensi melanggar hukum. “Kami minta warga ikut menjaga kampungnya dan melaporkan jika ada gelagat mencurigakan,” tambahnya.

Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga melakukan evaluasi terhadap sentra UMKM dan wisata edukasi di kawasan eks Dolly. Eri memerintahkan Dinas Koperasi dan Perdagangan untuk menyesuaikan jenis dagangan di Sentra Wisata Kuliner agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Program wisata edukasi di kawasan tersebut akan digerakkan kembali melalui kolaborasi dengan Karang Taruna dan komunitas pemuda setempat. Pemkot bahkan menyiapkan alokasi anggaran Rp5 juta per wilayah pada 2026 untuk mendukung kegiatan anak-anak muda, khususnya generasi Z. “Kami ingin pemuda di sana yang menggerakkan wisata edukasi, supaya mereka merasa memiliki dan ikut menjaga,” pungkas Eri.