Nasi Megono, Kuliner Rakyat Pesisir yang Jadi Ikon Pekalongan-Batang
Bacatrend, Pekalongan – Nasi Megono, kuliner khas pesisir Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan sebagai salah satu makanan tradisional yang paling dicari wisatawan. Hidangan sederhana berupa nasi putih dengan topping cacahan nangka muda bercampur kelapa parut dan rempah ini bukan sekadar makanan sehari-hari, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Pekalongan dan Batang.
Sejarawan kuliner menyebut nasi megono sudah dikenal sejak abad ke-17. Catatan lokal menuliskan bahwa pada tahun 1628, ketika pasukan Mataram tiba di Pekalongan dalam keadaan lapar, warga setempat menyajikan olahan nangka muda dengan kelapa dan rempah sebagai lauk nasi. Hidangan itu kemudian disebut megono, dari kata Jawa “megoni” yang berarti “mengisi” atau “menambah.”
Rasanya gurih dengan sentuhan pedas ringan, aroma rempah yang kuat, serta tekstur nangka muda yang lembut berpadu dengan kelapa parut. Biasanya nasi megono disajikan bersama lauk sederhana seperti ikan asin, tempe mendoan, atau sambal terasi. “Megono itu makanan rakyat, murah tapi bikin kenyang. Filosofinya kebersamaan, karena bisa dimakan ramai-ramai,” ujar salah satu pedagang di Pekalongan.
Di Batang, nasi megono sering hadir berdampingan dengan kuliner lokal lain seperti pecel keong atau soto tauto. Variasi ini memperkaya cita rasa sekaligus memperkuat posisi megono sebagai kuliner lintas daerah pesisir utara Jawa.
Selain menjadi menu harian, nasi megono juga kerap disajikan dalam acara adat, syukuran, hingga pernikahan. Kehadirannya dianggap simbol kesederhanaan sekaligus doa agar hidup selalu tercukupi.
Kini, nasi megono tak hanya bisa ditemukan di warung tradisional, tetapi juga di sentra kuliner modern. Pemerintah daerah bahkan mendorong UMKM kuliner untuk menjadikan megono sebagai ikon wisata gastronomi. Dengan harga terjangkau dan cita rasa autentik, nasi megono terus bertahan sebagai kuliner rakyat yang membumi sekaligus membanggakan.











Tinggalkan Balasan