Kotok Bongkok, Kuliner Fermentasi Khas Lebak
Bacatrend, LEBAK – Kotok Bongkok, kuliner tradisional khas Kabupaten Lebak, Banten, menjadi perhatian karena keunikannya yang menggunakan bahan dasar biji picung atau kluwek yang difermentasi. Makanan ini dikenal berasal dari Kampung Cimengger, Desa Mekarwangi, Kecamatan Muncang, dan secara turun-temurun diolah oleh warga setempat.
Berbeda dari namanya, Kotok Bongkok bukan olahan daging ayam, melainkan hasil fermentasi biji picung yang dikenal mengandung racun alami. Proses pengolahan menjadi kunci utama agar aman dikonsumsi. Biji dipisahkan dari cangkang, direndam berulang, lalu difermentasi selama beberapa hari hingga muncul aroma khas yang menandakan bahan siap diolah.
Setelah melalui proses tersebut, tekstur Kotok Bongkok menjadi lunak dan kenyal menyerupai jamur. Warga umumnya mengolahnya dengan cara dibungkus daun pisang dan dibakar, atau digoreng renyah setelah diberi baluran tepung. Hidangan ini biasa disajikan bersama nasi, sambal, serta lauk pendamping seperti ikan asin atau pindang.
Selain menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat adat di Lebak, Kotok Bongkok juga dinilai memiliki potensi ekonomi. Beberapa warga menjualnya dalam jumlah besar, antara lain satu tampah berisi lebih dari 100 biji dengan harga berkisar ratusan rupiah per buah. Meski demikian, produksinya belum masif karena teknik pengolahannya membutuhkan keahlian khusus.
Sejumlah sumber menyebut biji picung yang telah difermentasi mengandung antioksidan dan diyakini dapat membantu pencernaan serta tekanan darah. Namun, risiko tetap ada jika proses pengolahan tidak dilakukan dengan benar karena kandungan racun alami pada biji mentahnya.
Meski menawarkan keunikan rasa dan nilai budaya, aroma fermentasi yang kuat serta tekstur yang tidak biasa membuat makanan ini menjadi selera yang tidak selalu cocok bagi semua orang. Kendati demikian, Kotok Bongkok dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata kuliner khas Banten jika dikembangkan secara lebih luas.











Tinggalkan Balasan