Bacatrend, BANYUWANGI — Sebuah kuliner tradisional Banyuwangi kembali menarik perhatian publik setelah lama terpinggirkan. Bekamal, olahan daging fermentasi khas Suku Using, kini mulai dihidupkan kembali sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan gastronomi daerah.

Bekamal merupakan olahan daging sapi, ayam, atau kambing yang dibumbui gula jawa, garam, dan rempah, kemudian difermentasi selama beberapa hari hingga menghasilkan aroma dan cita rasa khas. Teknik ini telah digunakan masyarakat Using sejak ratusan tahun lalu sebagai cara mengawetkan daging sebelum teknologi pendingin dikenal luas.

Proses pembuatannya dimulai dengan memotong daging menjadi bagian kecil, kemudian mencampurnya dengan bumbu dasar. Daging yang telah dibumbui disimpan dalam wadah tertutup selama beberapa hari. Setelah proses fermentasi selesai, daging dicuci lalu ditumis bersama cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat. Dalam tradisi lokal, bekamal sering dijadikan isian sego jajang, yaitu nasi yang dibungkus daun pisang dan dibakar dalam bambu.

Meski memiliki aroma yang cukup tajam bagi sebagian orang, bekamal menawarkan cita rasa gurih-asam yang unik dan tidak ditemukan pada kuliner Banyuwangi lainnya. Keunikan inilah yang membuatnya kembali dilirik sebagai identitas kuliner daerah.









Bekamal sempat hampir punah karena proses pembuatannya dianggap rumit dan kurang diminati generasi muda. Namun dalam beberapa tahun terakhir, berbagai komunitas budaya, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah mulai mendorong pelestarian kuliner ini melalui festival, dokumentasi tradisi, hingga pengembangan produk siap saji.

Kebangkitan bekamal tidak hanya memperkaya ragam kuliner Banyuwangi, tetapi juga memperkuat identitas budaya Suku Using yang selama ini dikenal memiliki tradisi kuliner yang kuat dan berakar pada kearifan lokal.