Abu Nawas dan Raja Sihir
CeritaNgeTrend – Di Baghdad yang penuh dengan kisah ajaib, tersebar kabar tentang seorang raja sihir dari negeri jauh. Raja ini terkenal karena kekuatannya yang mampu menundukkan manusia dengan ilusi, mengubah emas menjadi debu, dan membuat orang percaya pada hal-hal yang mustahil. Khalifah Harun al-Rasyid, penasaran sekaligus khawatir, memanggil Abu Nawas untuk menguji kecerdikan sang raja sihir.
“Wahai Abu Nawas,” kata khalifah, “raja sihir ini ingin menunjukkan kehebatannya di istana. Aku ingin engkau menghadapinya, bukan dengan pedang, melainkan dengan akal.” Abu Nawas tersenyum, mengusap janggutnya, dan menjawab, “Kalau begitu, izinkan aku membawa bekal yang paling ampuh: lidah yang tajam dan akal yang licin.”
Raja sihir datang dengan rombongan besar. Ia menyalakan api dari telapak tangannya, mengubah air menjadi anggur, dan membuat burung terbang keluar dari sorbannya. Semua orang terpesona, kecuali Abu Nawas yang malah menguap. “Apakah kau tidak kagum, wahai orang Baghdad?” tanya raja sihir dengan nada sombong. Abu Nawas menjawab santai, “Aku sudah melihat hal yang lebih ajaib: seorang tukang masak yang bisa mengubah kambing menjadi gulai dalam waktu setengah jam. Itu jauh lebih berguna daripada burung keluar dari sorban.” Orang-orang tertawa, dan raja sihir mulai merasa tersindir.
Raja sihir kemudian menantang Abu Nawas dengan teka-teki mustahil. Ia memberikan sebuah kotak kosong dan berkata, “Isilah kotak ini dengan sesuatu yang tidak ada di dunia.” Abu Nawas mengambil udara dengan tangannya, memasukkannya ke kotak, lalu menutup rapat. “Inilah sesuatu yang tidak bisa kau lihat, tapi kau tahu ada.” Raja sihir terdiam, karena ia tak bisa membantah. Lalu ia mengubah pasir menjadi emas di depan khalifah. Abu Nawas segera mengambil segenggam emas itu, lalu melemparkannya ke air. Seketika emas itu kembali menjadi pasir. “Lihatlah, emasmu hanya berharga di mata orang yang mudah tertipu.” Raja sihir semakin marah. Ia berkata, “Aku bisa membuatmu hilang dari dunia dengan mantraku.” Abu Nawas menjawab, “Kalau begitu, buatlah aku hilang dari utang dulu. Itu lebih bermanfaat.”
Raja sihir mencoba menghipnotis Abu Nawas dengan tatapan matanya. Namun Abu Nawas pura-pura tertidur, lalu mendengkur keras. “Bangun!” teriak raja sihir. Abu Nawas membuka mata dan berkata, “Oh, aku kira kau sedang membacakan doa tidur. Terima kasih, tidurnya nyenyak sekali.” Semua orang di istana tertawa terbahak-bahak. Khalifah akhirnya berkata, “Wahai raja sihir, engkau memang hebat dengan ilusi. Tetapi Abu Nawas lebih hebat, karena ia bisa mengubah ilusi menjadi bahan tertawaan dan pelajaran.” Raja sihir pun malu, lalu meninggalkan Baghdad tanpa pamit.
Abu Nawas mendapat hadiah besar dari khalifah, tetapi ia malah membagikannya kepada rakyat miskin sambil berkata, “Lebih baik emas nyata di tangan rakyat daripada emas palsu di tangan penyihir.” Cerita ini pun menjadi buah bibir di Baghdad. Orang-orang belajar bahwa kecerdikan lebih kuat daripada ilusi, humor bisa menjadi senjata melawan kesombongan, dan kebenaran sederhana lebih berharga daripada keajaiban palsu.












Tinggalkan Balasan