Bacatrend, Surabaya – Saat mentari mulai tenggelam di ufuk barat, seorang pria sederhana melangkah perlahan memasuki Asrama Haji Surabaya.

Wajahnya menampakkan kelegaan dan rasa syukur yang tak terkira. Rochmad Munandar, lelaki 56 tahun asal Kenjeran, telah kembali dari perjalanan suci yang selama bertahun-tahun ia impikan.

Pijat urut bukan sekadar mata pencaharian bagi Rochmad, melainkan jalan yang menghantarkannya ke Tanah Suci.

Berbekal kemampuan yang diwariskan dari sang kakek, ia telah menekuni profesi ini sejak remaja.









“Saya dari SMP sudah bisa memijat. Kemampuan ini turun dari kakek. Mulai profesional di SMA, dan praktik pijat sejak 1998,” kenangnya.

Setiap hari, rumahnya di Jalan Cumpat Kulon Makam tak pernah sepi dari pasien. Kadang dua orang, kadang empat orang datang mencari kesembuhan melalui sentuhan tangannya.

Tarif? Seikhlasnya. Tak ada angka pasti yang ia patok.

“Saya hanya memasang tarif seikhlasnya, tidak mematok khusus. Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan keluarga dan berhaji,” ucapnya dengan nada penuh syukur.

Dari Jari-Jemari ke Tanah Suci Tahun 2012, dari rupiah demi rupiah yang ia sisihkan, Rochmad dan sang istri, Yuli Khotimah, mantap mendaftar haji.

Yuli, yang dulu mengajar bahasa Hong Kong, mendampingi sang suami dalam perjalanan spiritual yang luar biasa.

Di Makkah dan Madinah, kemampuannya tak hanya menghidupi dirinya. Rochmad menjadi penyembuh bagi banyak jemaah.

“Begitu tahu saya tukang pijat, banyak yang memanggil saya, dari Masjidil Haram hingga Tower Zam-Zam,” ujarnya.

Tidak hanya jemaah biasa, tangan Rochmad bahkan pernah memijat tokoh-tokoh ternama.

“Saya pernah mijat Arie Untung, bahkan Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kemenag RI, Muchlis Hanafi.”

Dan ada satu kisah yang membuat hatinya bergetar.

Seorang jemaah, sakit selama sepuluh tahun tanpa menemukan obat yang cocok, merasa tubuhnya berangsur membaik setelah mendapatkan pijatan dari Rochmad.

“Semua atas izin Allah SWT,” ucapnya, merendah.

Doa dan Harapan Meski telah menjejakkan kaki di Baitullah, hati Rochmad masih ingin terus berada di Tanah Suci.

“Rasanya belum ingin pulang,” bisiknya penuh kerinduan. Namun satu hal yang tak ia lupakan: mendoakan anak-anak dan keluarganya agar suatu saat mereka pun bisa berangkat haji.

Ibadahnya telah usai, tetapi doanya terus menggema—sebuah harapan agar perjalanan spiritualnya tak berakhir hanya pada dirinya.

Perjalanan Rochmad bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang pengabdian.

Ia bukan sekadar jemaah, tetapi seorang pelayan umat—yang dengan sepasang tangan sederhana, telah mengantarkan banyak orang menemukan kesejahteraan tubuh dan ketenangan hati.

Sebuah perjalanan, sebuah pengorbanan, dan sebuah kisah yang membuktikan: tidak ada batasan bagi mereka yang memiliki niat tulus dan keteguhan hati. Dari pijat urut, hingga sujud di depan Ka’bah.