Bacatrend, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2026. Proyeksi ini mencerminkan stabilitas makroekonomi nasional di tengah tekanan global, namun sejumlah ekonom menilai angka tersebut belum cukup untuk mendorong akselerasi struktural yang dibutuhkan Indonesia pasca pandemi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menyebut bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan, namun ketergantungan terhadap sektor tersebut perlu segera dikurangi. “Mengaktifkan mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang lain itu suatu hal yang fardhu ain (wajib). Konsumsi rumah tangga sudah terlalu lama mendominasi,” ujarnya dalam diskusi akhir tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih berada di atas 55 persen. Sementara itu, sektor investasi dan ekspor belum menunjukkan konsistensi sebagai pendorong pertumbuhan alternatif. Bank Dunia dalam laporan “Fondasi Digital” juga menyoroti perlunya transformasi ekonomi berbasis inovasi dan digitalisasi untuk memperluas sumber pertumbuhan.

Tantangan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan meliputi fragmentasi perdagangan global, tekanan fiskal akibat subsidi energi dan pangan, serta volatilitas nilai tukar rupiah yang diproyeksikan bisa menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Pemerintah melalui RAPBN 2026 menetapkan asumsi makro berupa pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp16.500 per dolar AS, dan suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen.









Para analis menilai bahwa untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah perlu mendorong investasi produktif di sektor manufaktur dan teknologi, memperluas basis ekspor bernilai tambah, serta mempercepat transformasi ekonomi hijau dan digital. Selain itu, penguatan daya saing UMKM dan sektor informal dinilai penting agar kontribusinya terhadap PDB lebih terukur dan berkelanjutan.

Proyeksi pertumbuhan 5 persen pada 2026 menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia, namun belum cukup untuk mendorong lompatan struktural. Diversifikasi sumber pertumbuhan menjadi kunci agar ekonomi nasional tidak terus bergantung pada konsumsi rumah tangga, terutama di tengah dinamika global yang semakin kompleks.