Bacatrend, Jakarta — Perusahaan keuangan raksasa asal Korea Selatan, Hanwha Life Insurance Co. Ltd., resmi menjadi pemegang saham pengendali di PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).

Akuisisi dilakukan dengan mengambil alih 40 persen saham Bank Nobu milik Grup Lippo, setara dengan 2,99 miliar lembar saham bernilai sekitar Rp299 miliar.
Langkah ini menandai ekspansi besar Hanwha ke industri keuangan Indonesia dan mengukuhkan kehadirannya dalam ekosistem perbankan digital Tanah Air.

“Dengan memanfaatkan keahlian kami dalam keuangan digital dan jaringan global, kami akan terus membentuk masa depan industri keuangan dan membangun merek keuangan global yang tepercaya,” ujar Kim Dong-wook, Kepala Bisnis Global Hanwha Life, Selasa (1/7).

Proses akuisisi dimulai sejak awal 2024 dan telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 Maret 2025, yang dihadiri oleh 91,55 persen pemegang saham.









Persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah diterbitkan, termasuk penilaian kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap Hanwha dan ultimate beneficial owner-nya, Seung Youn Kim. Pencatatan dokumen legal juga telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM per 30 Juni 2025, sehingga akuisisi dinyatakan sah secara hukum.

Masuknya Hanwha membuka babak baru bagi Bank Nobu, yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari ekosistem bisnis Grup Lippo. Hanwha Life menyatakan bahwa akuisisi ini selaras dengan visi jangka panjang mereka di Asia Tenggara.

Hanwha disebut tertarik dengan potensi digitalisasi layanan keuangan Indonesia, serta melihat Bank Nobu sebagai mitra strategis yang dapat memperkuat penetrasi pasar dan inovasi produk berbasis big data, teknologi AI, dan digital banking.

“Kami ingin menciptakan sinergi antara ekosistem Hanwha dengan kemampuan teknologi yang dimiliki Bank Nobu,” demikian dikutip dari pernyataan resmi perusahaan.

Di sisi lain, akuisisi ini juga menimbulkan pertanyaan atas kelanjutan rencana merger antara Bank Nobu dan PT Bank MNC Internasional Tbk.

Sebelumnya, kedua pihak sempat menyatakan rencana konsolidasi sejak 2023, namun hingga pertengahan 2025, belum ada realisasi. OJK sendiri sempat menyebut kemungkinan merger paksa jika proses konsolidasi tak kunjung diselesaikan.

Meski begitu, hingga saat ini OJK belum menerima permohonan merger terbaru dari kedua belah pihak. Akuisisi oleh Hanwha bisa jadi akan mengubah arah atau komposisi merger tersebut.

Dengan akuisisi ini, Hanwha diprediksi akan mempercepat transformasi digital Bank Nobu, menyuntikkan modal baru, serta memperluas jaringan layanan keuangan digital yang terintegrasi secara regional.

Hanwha Group sendiri merupakan salah satu konglomerat terbesar Korea Selatan, dengan bisnis yang tersebar di bidang asuransi, pertahanan, teknologi, energi, hingga perbankan. Chairman-nya, Seung Youn Kim, dikenal sebagai tokoh berpengaruh di bidang keuangan dan industri strategis Korea.