Bacatrend, Jakarta — Harga emas menunjukkan kenaikan tipis sepanjang pekan terakhir, dipengaruhi oleh sentimen global dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Di pasar domestik, harga emas batangan Antam tercatat naik dari Rp1.946.000 menjadi Rp1.959.000 per gram pada Jumat (22/8), sebelum kembali stagnan di level Rp1.951.000 per gram hingga akhir pekan. Sementara itu, harga buyback tetap berada di Rp1.797.000 per gram.

Di pasar internasional, harga emas spot ditutup di level USD 3.371,09 per troy ounce pada Jumat, naik 1,04 persen dibandingkan awal pekan. Kenaikan ini dipicu oleh pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell dalam Simposium Jackson Hole, yang membuka peluang penurunan suku bunga acuan pada bulan depan.

Namun, tekanan jual sempat muncul di awal pekan akibat meredanya ketegangan geopolitik dan rilis data ekonomi Amerika Serikat yang beragam. Harga emas sempat turun ke USD 3.335 sebelum kembali menguat ke USD 3.367.

Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental dari berbagai sumber, harga emas diperkirakan akan tetap fluktuatif namun berpotensi menguat pada pekan depan. Traders Union memproyeksikan harga emas dunia akan bergerak di kisaran USD 3.363 hingga USD 3.413 per troy ounce, dengan rata-rata USD 3.388. Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi memperkirakan harga emas bisa mencapai USD 3.416 sebagai level resistance mingguan, dan berpotensi naik ke Rp2.150.000 per gram di pasar domestik jika tren bullish berlanjut.









Sementara itu, survei Kitco News menunjukkan mayoritas investor ritel optimistis harga emas akan naik, meski sebagian analis Wall Street memperkirakan pergerakan mendatar. Faktor penentu utama pekan depan adalah pidato lanjutan dari pejabat The Fed, data PMI, dan laporan tenaga kerja Amerika Serikat.

Jika sinyal pemangkasan suku bunga semakin kuat, harga emas diperkirakan dapat menembus resistance USD 3.400 dan menuju USD 3.450 per troy ounce.