Bacatrend, JOMBANG – Kenaikan harga kedelai impor dan plastik kemasan membuat perajin tahu dan tempe di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tertekan. Untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, mereka memilih memperkecil ukuran tahu dan tempe agar harga jual tetap terjangkau bagi konsumen.

Yusuf, perajin tahu di Jogoroto, Jombang, mengatakan biaya produksi meningkat tajam akibat kenaikan harga bahan baku utama dan pendukung. “Kalau harga dinaikkan pembeli bisa berkurang, jadi kami kurangi ukuran tempe,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelum harga kedelai naik, kapasitas produksi mencapai sekitar tiga kuintal per hari. Namun kini produksi turun menjadi 2 kuintal hingga 2,5 kuintal per hari. Penyesuaian dilakukan dengan mengurangi berat tempe dalam setiap bungkus, dari sebelumnya sekitar 380 gram menjadi 350 gram, sementara harga jual tetap dipertahankan.

Hadi, perajin lain, menambahkan bahwa dirinya tetap menggunakan kedelai impor karena ketersediaan kedelai lokal terbatas. Selain itu, hasil produksi dari kedelai impor dinilai lebih banyak dan kualitasnya lebih stabil.









Di sisi lain, pedagang kedelai di Pasar Legi Jombang, Rafli, menyebut harga kedelai impor saat ini naik dari Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. “Kenaikan terjadi sejak konflik di Timur Tengah, harapannya harga bisa kembali stabil,” ujarnya. Ia menambahkan, harga kedelai lokal juga ikut naik dari Rp9 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.

Selain kedelai, harga plastik kemasan juga mengalami kenaikan signifikan. Perajin tempe mengaku biaya tambahan dari plastik membuat beban produksi semakin berat. Plastik yang sebelumnya relatif murah kini menjadi salah satu komponen yang menekan margin keuntungan. Kondisi ini membuat perajin harus melakukan efisiensi di berbagai aspek, termasuk mengurangi ukuran produk.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia masih bergantung pada impor kedelai lebih dari 2 juta ton per tahun, dengan Amerika Serikat sebagai pemasok utama. Ketergantungan ini membuat harga kedelai di pasar domestik sangat rentan terhadap gejolak global, termasuk konflik geopolitik dan fluktuasi nilai tukar. Di sisi lain, bahan pendukung seperti plastik kemasan juga terpengaruh oleh harga minyak dunia, sehingga menambah tekanan biaya bagi industri kecil dan menengah.

Kenaikan harga kedelai dan plastik kemasan menjadi pukulan ganda bagi perajin tempe di Jombang. Strategi memperkecil ukuran produk menjadi jalan tengah agar konsumen tidak terbebani dengan kenaikan harga, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.