Bacatrend, Jakarta – Harga minyak global melonjak tajam hingga lebih dari 8 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana blokade terhadap Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kenaikan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi global dan potensi inflasi di berbagai negara.

Pada Minggu (12/4/2026) pukul 22.01 GMT atau Senin (13/4/2026) pukul 05.01 WIB, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni tercatat naik 7,76 persen menjadi 102,59 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka Mei melonjak 8,2 persen ke 104,51 dolar AS per barel. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak awal 2024, menurut data perdagangan internasional.

Lonjakan harga terjadi setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Wakil Presiden AS J.D. Vance, yang memimpin delegasi, menyatakan bahwa kedua pihak tidak menemukan titik temu dalam negosiasi yang berlangsung sejak Sabtu (11/4). Delegasi AS pun meninggalkan Islamabad tanpa hasil.

Menanggapi kegagalan tersebut, Presiden Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memblokade seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Ia juga memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat kapal yang membayar kepada Iran untuk melintasi jalur tersebut. Komando Pusat AS (CENTCOM) memastikan blokade akan dimulai pada Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.









Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menyalurkan sekitar seperlima ekspor minyak dunia dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Iran. Ancaman blokade memicu kekhawatiran pasokan energi global, terutama bagi negara importir besar seperti Cina, Jepang, dan India.

Analis pasar memperkirakan harga minyak bisa menembus 110 dolar AS per barel jika blokade berlangsung lebih dari satu minggu. Sementara itu, saham sektor energi melonjak, dan investor mulai beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS. Kenaikan harga minyak ini menandai meningkatnya sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah menjelang musim panas 2026.