Bacatrend, Jakarta — Indonesia resmi mencatat pencapaian swasembada beras setelah Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan bahwa surplus beras nasional meningkat tajam hingga 243,2 persen dalam empat tahun terakhir. Pada 2025, total produksi beras nasional mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 31,19 juta ton, sehingga menghasilkan surplus sebesar 3,52 juta ton.

Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa capaian ini merupakan bukti nyata dari komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. “Ini merupakan langkah nyata dan tekad pemerintah untuk melindungi petani sebagai elemen penting dalam kerangka percepatan swasembada pangan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

Menurut Bapanas, swasembada beras ditandai dengan tiga indikator utama: produksi nasional yang melampaui konsumsi tahunan, tidak adanya impor beras konsumsi sepanjang tahun, dan cadangan beras nasional yang cukup untuk kebutuhan awal tahun berikutnya. Dengan stok awal 2026 yang disebut sebagai tertinggi sepanjang sejarah, Indonesia memasuki era baru dalam pengelolaan pangan strategis.

Pencapaian ini juga berdampak pada pasar internasional. Keberhasilan Indonesia dalam swasembada beras disebut telah menekan harga komoditas beras dunia hingga 44 persen, menunjukkan kontribusi signifikan terhadap stabilitas pangan global. Pemerintah bahkan membuka peluang ekspor beras pada 2026, dengan syarat penyerapan oleh Bulog tetap stabil.









Langkah ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pangan Indonesia, yang selama bertahun-tahun bergantung pada impor untuk menutupi kekurangan pasokan. Kini, dengan cadangan yang melimpah dan produksi yang konsisten, Indonesia berpotensi menjadi pemain baru di pasar beras dunia.